Tertutup Proyek Saluran Pembuang, Puluhan Hektar Sawah di Gandapura jadi 'Lautan'

Tertutup Proyek Saluran Pembuang, Puluhan Hektar Sawah di Gandapura jadi 'Lautan'
A A A

Bireuen, acehnews.id -- Puluhan hektar sawah di tujuh gampong di Kecamatan Gandapura, Kabupaten Bireuen tergenang air selama hampir empat bulan lamanya akibat ditutupnya akses saluran pembuangan air untuk pengerjaan kontruksi saluran pembuang Paya Geurugoh.

Proyek saluran pembuang tersebut terletak di Gampong Ujong Bayu yang dikerjakan oleh PT. Menara Suriya Shakti, yang berada pada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Bireuen.

Hal itu dikatakan masyarakat kepada acehnews.id di Cot Rambat, Rabu 13 Januari 2021.

Sebenarnya, menurut mereka, saat ini adalah musim tanam padi di sawah , yang diperkirakan usia padi sudah pada tahap pertunasan batang.

"Hampir 4 bulan tergenang, umumnya masyarakat bermata pencaharian petani dan buruh tani, kami menggantungkan kehidupan dari hasil di sawah," ujar M Yahya.

Lanjutnya, dulu walaupun hujan deras tak sampai menyebabkan areal digenangi air sudah seperti "lautan".

Adapun ketujuh desa tersebut adalah Cot Rambat, Tanjong Beungong, Mon Jeureujak, Tanjong Raya, Blang Kubu, Tanjong Mesjid, Pulau Gisa.

Sementara Sekretaris Desa Cot Rambat Sabri, menjelaskan kondisi yang terjadi di gampongya itu mulai terjadi dari Oktober 2020 yang lalu.

Ekses akibat penutupan saluran pembuang tersebut mengakibatkan masyarakat tidak bisa menanam padi seperti jadwal turun sawah yang sudah ditetapkan dan dan hal itu telah menyulitkan perekonomian masyarakat setempat yang notabene bermata pencaharian petani.

"Masyarakat mayoritas petani pun mengeluh tak bisa menggarap areal perwasahan mereka yang menjadi tumpuan ekonomi," kata Sabri mewakili warganya.

Warga pun kesal karena permasalahan tersebut tanpa ada solusi dari pihak yang berkompeten, kejadian tersebut luput dari perhatian Pemerintah Kabupaten Bireuen dan Dinas terkait.

"Tak ada satupun dari Pemkab dan Dinas turun melihat, tidak ada solusinya sampai saat ini, harusnya pembangunan jangan menyulitkan masyarakat," ketus Sabri.

Seorang warga lainnya yang tidak ingin indentitas ditulis mangatakan dalam pengerjaan seharusnya memperhatikan kondisi perekonomian masyarakat dan harus ada hasil analisis dampak lingkungan sebelum suatu proyek dikerjakan.

"Sayang sekali masyarakat jadi korban, kenapa menerima manfaat proyek menjadikan malapetaka baru, harusnya harus ada kejelasan AMDAL sebelum saluran dikerjakan," protes warga yang indentitas dirahasiakan.[]

Komentar

  Loading...