Teken

Teken
A A A

 

Oleh Nurdin Abdul Rahman (Dosen Universitas Almuslim Peusangan Bireuen, Aceh.)

ITULAH sepatah ungkapan yang sering saya lontarkan ketika saya diminta untuk menandatangani daftar hadir (dafdir) di berbagai pertemuan, rapat atau acara resmi lainnya; "Pak, jangan lupa teken absen sebelum meninggalkan ruangan."

Dalam keadaan sedikit heran, sayapun balik bertanya: "Saya hadir kenapa teken absen?"



Melihat kenyataan itu, dalam hati saya selalu timbul pertanyaan "Apakah orang Indonesia senangnya membiasakan diri dengan hal yang salah?"

Karena semua orang tahu kalau `absen' itu artinya `tidak hadir', sungguh kontras dengan kenyataan di masyarakat dimana kata itu dipakai untuk menyatakan `hadir' pada suatu acara bahkan pada acara-acara resmi.

Yang mengherankan, ungkapan seperti itu justru diucapkan oleh individu-individu yang menyandang status sebagai pejabat negara, akademisi perguruan tinggi atau kepala Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau swasta.

Seingat saya ungkapan ini, yang sangat mengusik akal sehat saya, sudah berlangsung bertahun-tahun, dan diucapkan oleh berjuta-juta orang Indonesia.

Aneh, `absen' dipakai dengan arti `hadir'. Yang lebih mengherankan lagi, di toko-toko buku atau alat-alat kantor sekarang sudah dijual apa yang diberi judul "Buku Absen", dan saya sudah mendapatinya di hampir semua sekolah sebagai buku `daftar hadir' siswa.

Di sejumlah kantor pemerintah, swasta dan BUMN saya juga menjumpai petunjuk seperti ini, "Absen Elektronik", "Absen Sidik Jari", dan lain-lain yang merupakan petunjuk untuk menandakan kehadiran tapi dengan menggunakan kata `absen'.

Kata `absen' juga di banyak dokumen sering saya jumpai diletakkan berpasangan dengan kata `hadir'. Ada dafdir (daftar hadir) yang di judulnya sangat tepat tertulis "Daftar Hadir Peserta .." Tetapi di salah satu kolom dalam dafdir tersebut adalah judul "Absensi Kehadiran".



Ini sangat rancu. Sudah `absensi' itu sendiri artinya `ketidakhadiran', ditambah lagi dengan kata `kehadiran' di belakangnya, aneh jadinya: `Ketidakhadiran Kehadiran'.

Bahwa hampir semua orang tahu `absen' itu artinya `tidak hadir', dapat dilihat dari tepatnya mereka menempatkan kata `absen' ketika mereka mengatakan hal seperti ini: "Saya minta maaf, saya absen di acara besok, karena ada sesuatu yang urgen yang harus saya kerjakan."

Atau sering juga dalam pengumuman yang disampai secara lisan oleh seorang pimpinan dengan mengatakan: "Saya sangat mengharapkan tidak ada seorang pun yang absen pada acara tersebut besok." Penggunaan kata `absen' di sini justru sangat tepat dan pas sesuai artinya, yaitu `tidak hadir'.


Dilihat dari sudut pandang kecenderungan orang untuk menggunakan ungkapan yang mudah diucapkan dan pendek, penggunaan kata `absen' dengan maksud `hadir' sering juga dijadikan alasan. Akan tetapi apapun alasannya, penggunaan sesuatu yang tidak sesuai dengan fungsi dan maksudnya akan merendahkan fungsi dan maksud dari sesuatu itu; ya, dalam hal ini penggunaan kata `absen' dengan maksud `hadir'.

Karena itu, untuk memenuhi kecenderungan kita dalam menggunakan sebuah ungkapan secara singkat dan mudah, maka di sini saya menyebutkan `daftar hadir' dengan singkatan `dafdir'; mudah dan singkat.

Tentang penggunaan kata `hadir' sebagai kata kerja juga sering kita jumpai adanya kekeliruan dalam percakapan atau dalam resepsi-resepsi di kalangan masyarakat kita. "Terima kasih kami sampaikan kepada Bapak dan Ibu yang telah berhadir memenuhi undangan kami."

Pakar Bahasa Indonesia sudah sering mengoreksi penggunaan `berhadir' dalam dalam konteks ini. Kata `hadir' adalah kata-kerja intransitive, tidak memerlukan `objek'. Jadi yang benar penggunaannya dalam konteks ini adalah `hadir' bukan `berhadir', karena `hadir' tidak memerlukan awalan `ber-`. "Terima kasih kami sampaikan kepada Bapak dan Ibu yang telah hadir memenuhi undangan kami."

Ada satu hal lain yang saya juga sering jumpai dalam kebiasaan orang menutup pembicaraannya atau pidatonya. "Barangkali itulah yang dapat saya sampaikan" atau "Mungkin itulah yang perlu saya sampaikan pada kesempatan ini .."

Menurut saya, dengan dia katakan `barangkali' atau `mungkin' ketika dia mengakhiri pembicaraan atau pidatonya, berarti dia telah menihilkan apa-apa yang telah diucapkan sebagai sesuatu yang tadinya dianggap penting dan perlu disampaikan.

Akan tetapi saya bisa memahami kalau ungkapannya seperti itu dengan maksud untuk tidak membanggakan diri seakan-akan apa yang telah disampaikan itu benar, tepat dan mutlak bisa diterima oleh para pendengar.

Namun di balik dari itu, dia tidak menyadari bahwa secara bahasa, dengan ucapan seperti itu, dia telah membuat apa yang telah disampaikan itu menjadi sesuatu yang `masih barangkali atau mungkin'.

Kalau begitu, lantas bagaimana seseorang mengakhiri pembicaraannya yang benar dilihat dari sudut pandang bahasa? Atau apa yang harus diucapkan?

Sejauh pengetahuan bahasa yang saya miliki, melalui sejumlah pelatihan muhadharah (pidato) yang pernah saya ikuti, ungkapan penutupan dalam suatu pecakapan atau penyampaian publik adalah misalnya, "Saya pikir itulah yang dapat saya sampaikan dalam pembicaraan saya ini, mohon maaf atas segala kesalahan, semoga bermanfaat bagi kita semua."


Contoh kingkrit bisa kita ambil dari sebuah ceramah ulama sejuta ummat, KH Zainuddin MZ, yang disampaikan pada 17 April 2018: "Nah, ini sajalah yang kita bicarakan pada pertemuan kali ini, mudah-mudahan ada manfaatnya.Terima kasih atas segala perhatian, mohon maaf atas segala kekurangan. Wassalaamu `alaikum wa Rahmutullaahi wa Barakaatuh."

Bahwa apa yang disampaikan bisa saja ada kekurangan sebagai manusia biasa, maka pada ucapan penutup dikatakan "mohon maaf atas segala kekurangan".

Bahkan ada sejumlah pembicara atau penceramah kondang lainnya yang menutup pembicaraan dengan mengatakan "Akhirul kalam, kalau ada hal-hal yang kurang berkenan, atau ada kekurangan, saya mohon diperbanyak maaf."

Sebagai penutup, melalui tulisan yang sederhana ini, saya ingin mengajak kita semua untuk terus berusaha menggunakan Bahasa Indonesia secara benar dalam berbagai konteks dan kegiatan yang kita jalankan.[]



Artikel ini telah tayang di serambinews.com dengan judul "Saya Hadir Kenapa Teken Absen?"  

Sumber:SERAMBI

Komentar

  Loading...