Sempat Memanas, Turki dan Prancis Siap Berdamai

Sempat Memanas, Turki dan Prancis Siap BerdamaiRepublika
Perang Urat Erdogan vs Macron
A A A

Hubungan Turki-Prancis memanas dari mulai isu kartun Nabi hingga perang di Karabakh.

Ankara, acehnews.id -- Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu mengatakan, bahwa Turki dan Prancis tengah membicarakan peta jalan untuk menormalkan hubungan, Kamis (7/1) waktu setempat. Pembicaraan keduanya dikatakan berjalan dengan baik.

Ankara siap untuk meningkatkan hubungan dengan sekutu NATO-nya jika Paris menunjukkan kemauan yang sama. Berbicara bersama mitranya dari Portugis, Augusto Santos Silva di Lisbon, Cavusoglu mengatakan ketegangan dengan Paris berawal dari sikap pemerintahan Macron yang menentang Turki pasca serangan Ankara ke timur laut Suriah terhadap YPG Kurdi Suriah.

"Turki tidak secara tegas melawan Prancis, tetapi Prancis telah melawan Turki secara tegas sejak Operasi Mata Air Perdamaian," kata Cavusoglu dilansir laman Middle East Monitor, Jumat 8 Januari 2020.

Ankara memandang YPG sebagai organisasi teroris yang terkait dengan militan Kurdi di negerinya sendiri. "Pada akhirnya, kami melakukan percakapan telepon yang sangat konstruktif dengan mitra Prancis saya Jean-Yves Le Drian dan kami sepakat bahwa kami harus mengerjakan peta jalan untuk menormalkan hubungan," kata Cavusoglu.

"Kami telah mengerjakan rencana tindakan, atau peta jalan, untuk menormalkan hubungan dan itu telah berjalan dengan baik. Jika Prancis tulus, Turki juga siap untuk menormalisasi hubungan dengan Prancis," ujarnya menambahkan.

Seperti diketahui, Turki berulang kali tegang dengan Prancis atas kebijakan di Suriah, Libya, Mediterania timur, dan Nagorno-Karabakh, bahkan soal penerbitan kartun nabi Muhammad di Prancis. Paris juga telah mendorong sanksi Uni Eropa terhadap Turki.

Bulan lalu, Uni Eropa menyiapkan langkah-langkah hukuman atas perselisihan Turki dengan anggota Yunani dan Siprus atas hak atas sumber daya lepas pantai di Mediterania timur. Namun blok tersebut memutuskan untuk menunda langkah-langkah itu hingga Maret meskipun sebelumnya ada dorongan dari Prancis untuk memberi sanksi kepada Ankara.

Setelah ketegangan selama berbulan-bulan, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Prancis Emmanuel Macron membahas perbedaan mereka dalam panggilan telepon pada September. Keduanya setuju untuk meningkatkan hubungan. Tapi, kedua presiden kemudian bertukar tuduhan atas sejumlah masalah saat ketegangan berkobar lagi.[]

Sumber:Republika

Komentar

  Loading...