RI Andalkan Pertamina untuk Gencarkan Investasi Migas

RI Andalkan Pertamina untuk Gencarkan Investasi Migas
Foto: PHE WMO operasikan kembali anjungan PHE 12. (Dok. Pertamina Hulu Energi)
A A A

Jakarta, acehnews.id -- Investasi di sektor minyak dan gas (migas) mendapat tekanan saat pandemi Covid-19 menyerang. Konsumsi minyak yang turun karena pembatasan mobilitas masyarakat membuat investasi di sektor migas kini dinilai menjadi kurang menarik.

Mengenai hal ini, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif dalam Rapat Kerja (Raker) dengan Komisi VII DPR RI mengatakan, pemerintah ke depannya akan mengandalkan Pertamina untuk menjadi pemain utama hulu migas di dalam negeri, termasuk dalam menggencarkan investasi.

"Ke depan untuk masalah migas, kami berharap Pertamina bisa menjadi pemain utama di dalam negeri," paparnya dalam Raker dengan Komisi VII DPR RI, Rabu 02 Juni 2021.

Dorongan ke Pertamina ini menurutnya juga sebagai salah satu bentuk antisipasi kemungkinan dicabutnya investasi asing di Tanah Air secara besar-besaran.

"Karena kita harus bisa mengantisipasi kemungkinan eksodusnya. Ini akan kita jadikan suatu susulan program," ujarnya.

Seperti diketahui, pemerintah memiliki target yang sangat agresif terkait produksi minyak dan gas bumi dalam 10 tahun mendatang. Produksi minyak ditargetkan mencapai 1 juta barel per hari (bph) pada 2030.

Untuk mencapai target tersebut, tak tanggung-tanggung investasi yang dibutuhkan mencapai US$ 187 miliar atau sekitar Rp 2.711 triliun (asumsi kurs Rp 14.500 per US$) hingga 2030 mendatang.

Salah satu upaya yang akan dilakukan pemerintah demi mencapai target tersebut di tengah kondisi melemahnya permintaan minyak dunia akibat pandemi, Kementerian ESDM akan mengajukan tambahan insentif fiskal kepada Kementerian Keuangan.

"Kita sedang siapkan satu proposal ke Kementerian Keuangan untuk bisa memberikan keringanan fiskal lebih lanjut. Nah ini akan kita bahas dalam rapat internal dengan Kemenkeu mengenai perpajakan dan wilayah usaha," ujarnya.

Arifin menyebut, usulan tambahan insentif tersebut berasal dari Asosiasi Perusahaan Migas Indonesia (Indonesian Petroleum Association/ IPA). Menurutnya, IPA sepakat mendukung target produksi minyak 1 juta barel per hari pada 2030.

Saat ini menurutnya Kementerian ESDM juga mencoba untuk bisa memberikan keringanan lebih besar lagi kepada kontraktor dari sisi bagi hasil produksi (split) antara pemerintah dan kontraktor. Dia mengaku, hal ini perlu dilakukan karena jika dibandingkan dengan negara sekitar di kawasan Asia Tenggara (ASEAN), mereka lebih agresif di dalam memberikan insentif daripada Indonesia.

"KKKS besar juga sudah mengalihkan ke energi bersih. Sebagai suatu ilustrasi, banyak pemain besar minyak dunia sudah mengurangi capex (capital expenditure/ belanja modal) untuk investasi besar," jelasnya.

Sebelumnya, PT Pertamina (Persero) menyebut menganggarkan investasi sekitar US$ 92 miliar atau sekitar Rp 1.288 triliun (asumsi kurs Rp 14.000 per US$) sampai dengan 2024 mendatang.

Direktur Keuangan Pertamina Emma Sri Martini memperkirakan investasi sebesar US$ 92 miliar akan didanai melalui internal (internal funding) 38% dan sisanya 62% akan berasal dari pendanaan luar (external funding) dan kemitraan.

Pertamina sangat terbuka dengan calon mitra yang mau bergabung. Apalagi, lanjutnya, perseroan juga akan gencar melakukan aktivitas hulu minyak dan gas bumi.

Perseroan berencana investasi di bidang hulu migas mencapai sebesar US$ 64 miliar, di hilir seperti kilang BBM dan petrokimia sebesar US$ 20 miliar.
Kemudian, di sisi investasi gas, pembangkit listrik, dan energi baru terbarukan (EBT) sebesar US$ 8 miliar.

Menurutnya, Pertamina akas fokus dalam menekan produk-produk impor, sehingga defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/ CAD) yang lebar bisa ditekan.

"Kami fokus bagaimana bantu CAD dan substitusi produk dari impor," ujarnya dalam webinar 'Prospek BUMN 2021 Sebagai Lokomotif PEN dan Sovereign Wealth Fund', Kamis (04/03/2021).[]

Komentar

  Loading...