Penanganan Banjir Aceh di Tengah Pandemi

Oleh: Sinta Nur Hasana

Penanganan Banjir Aceh di Tengah Pandemi
Ilustrasi
A A A

Oleh: Sinta Nur Hasana (Penulis adalah: Mahasiswa S1 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Aceh)

AKHIR tahun 2019 lalu, dunia di gemparkan dengan merebaknya virus corona (covid-19), pada awal tahun 2020 virus yang sangat cepat menyebar ini masuk Indonesia. Penyakit ini dapat menyebar dari orang ke orang melalui percikan dari hidung atau mulut ketika seseorang berbicara, batuk atau bersin.

Percikan ini menempel pada benda dan permukaan di sekitar orang tersebut. Virus corona ini sangat cepat penyebarannya jika terjadi bersentuhan langsung dengan penderita, orang berkumpul dan berinteraksi rapat.

Banjir di Aceh merupakan peristiwa yang selalu terjadi di akhir tahun ada awal tahun, bahkan hampir seluruh Kabupaten/Kota di Aceh sudah menjadi langganan banjir. Salah satu penyabab banjir di Aceh saat ini adalah karena laju deforestasi sangat tinggi. Banyak perusahaan maupun masyarakat membuka lahan baru, sehingga hutan di Aceh banyak hilang, hal ini dapat menyebabkan banjir dan longsor sangat tinggi.

Selama curah hujan yang tinggi sebagian air tertahan di kolam atau tanah, sebagian diserap oleh rumput dan tumbuh-tumbuhan, sebagian menguap, dan sisanya mengalir di atas tanah sebagai limpasan permukaan.

Banjir terjadi ketika kolam, danau, dasar sungai, tanah, dan tumbuhan tidak dapat menyerap semua air.

Air kemudian mengalir dari tanah dalam jumlah yang tidak dapat dibawa ke dalam saluran sungai atau disimpan di kolam alami, danau, dan waduk buatan. Sekitar 30 persen dari semua curah hujan dalam bentuk limpasan kecil dan jumlah itu mungkin bertambah oleh air dari salju yang mencair.

Banjir sungai sering kali disebabkan oleh hujan lebat. Banjir yang naik dengan cepat, dengan sedikit atau tanpa peringatan dini, disebut banjir bandang. Banjir bandang biasanya diakibatkan oleh curah hujan yang tinggi di area yang relatif kecil, atau jika area tersebut sudah jenuh dari curah hujan sebelumnya.

Banjir memiliki banyak dampak. Ini merusak properti dan membahayakan kehidupan manusia serta spesies lain. Aliran air yang cepat menyebabkan erosi tanah dan pengendapan sedimen bersamaan di tempat lain (seperti lebih jauh ke hilir atau ke bawah pantai).

Tambak ikan dan habitat satwa liar lainnya dapat tercemar atau hancur total. Beberapa banjir tinggi yang berkepanjangan dapat memperlambat lalu lintas di daerah yang tidak memiliki jalan layang. Banjir dapat mengganggu drainase dan penggunaan ekonomi lahan, seperti mengganggu pertanian.

Kerusakan struktural dapat terjadi pada abutmen jembatan, garis tepian, saluran selokan, dan struktur lain di dalam saluran banjir. Navigasi jalur air dan tenaga hidroelektrik sering terganggu. Kerugian finansial akibat banjir biasanya triliunan rupiah setiap tahun Indonesia.

Pada tanggal 5 Desember 2020, curah hujan sangan deras di Aceh Timur dan Aceh Utara, sehingga akibat hujan dengan intensitas tinggi tersebut mengakibatkan 15 dari 24 kecamatan di Kabupaten Aceh Timur dan 14 kecamatan dari 27 kecamatan di Aceh Utara terendam banjir. Dampaknya sangat besar bagi masyarakat, terlebih lagi di tengah pendemi sperti ini tentu sangat memperburuk keadaan.

Akibat banjir tersebut ribuan warga mengungsi ke fasilitas publik yang lebih tinggi. Dalam kondisi wabah covid-19 seperti saat ini sangat sulit diterapkan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran virus tersebut. Hal ini harus menjadi perhatian semua pihak terutama pemerintah daerah, petugas kesehatan dalam menangani pengungsi akibat banjir.

Sangat sulit penerapan protokol kesehatan Covid-19 dalam penangan korban banjir. Seperti saat orang berkumpul di tempat-tempat pengungsian. Hal ini dapat berpotensi jumlah penderita Covid-19 melonjak dratis di Aceh.

Banjir saja sudah membuat masyarakat kacau dan menderita, pandemi pun demikian. Banjir yang datang di tengah pandemi merupakan kekacauan dan penderitaan masyarakat yang berlipat ganda.

Apabila ini tidak ditangani dengan baik, kemungkinan besar wabah virus corona semakin parah terjadi di Aceh.

Dalam kondisi seperti ini semua pihak harus berperan, terutama pemerintah harus mencari format yang tepat dalam upaya menangani banjir dan virus corona, jangan sampai masyarakat semakin menderita.

Jadi apa yang harus dilakukan? Hal terpenting yang harus dilakukan adalah penanganan dini. Pemerintah harus menyiapkan tempat-tempat pengungsian yang standar protokol kesehatan Covid-19 untuk pencegahan penyebaran virus tersebut. Dengan pertimbangan protokor kesehatan itu, minimal tempang pengungsian harus lebih luas, membatasi jumlah orang dalam satu tempat pengungsian.

Ibu hamil dan lansia harus disediakan tempat penampungan kusus. Kalau itu tidak dilakukan tempat pungungsian akan menjadi klaster baru penyebaran Covid-19.

Gedung-gedung sekolah ataupun pasilitas publik yang selama ini tidak dipakai harus disiapkan untuk tempat pengungsian, disetiap tempat pengungsian harus ada petugas kesehatan serta penjaan protocol kesehatan.

Selain itu, pemerintah juga harus menyiapkan nutrisi dan vitamin untuk pengungsi untuk peningkatan imun tubuh, karena dalam kondisi seperti itu rentan diserang berbagai macam penyakit.

Pencegahan Banjir Jangka Panjang Manusia tidak bisa menghentikan turunnya hujan atau menghentikan aliran air permukaan agar tidak meluap. Ini adalah peristiwa alam, tetapi kita dapat melakukan sesuatu untuk mencegahnya agar tidak berdampak besar. Dalam hal ini perlu adanya upaya serius dari pemerintah dalam mencegah dampak banjir jangka panjang.

Hal pertama yang harus dilakukan oleh pemerintah adalah membuat regulasi (qanun) terkait penanganan banjir, serta menindak tegas pembalakan liar di Aceh.

Pemerintah harus membangun tanggul dinding penahan, danau, bendungan, waduk, atau kolam retensi untuk menampung air ekstra selama masa banjir.

Pohon, semak, dan rumput membantu melindungi tanah dari erosi dengan menggerakkan air. Masyarakat di dataran rendah harus didorong untuk menggunakan banyak vegetasi untuk membantu memecah kekuatan aliran air banjir dan juga membantu mengurangi erosi.

Pembangun harus mendapatkan izin sebelum bangunan didirikan. Itu akan memastikan bahwa saluran air tidak terhalang. Selain itu, sistem drainase harus ditutup dan dijauhkan dari benda-benda yang menyumbatnya. Dengan cara ini, air dapat mengalir dengan cepat jika hujan dan meminimalkan kemungkinan banjir di kota. Sistem drainase juga harus ditutup untuk mencegah sampah masuk ke dalamnya.

Di banyak negara berkembang, sistem drainase dipenuhi sampah dan orang hanya memiliki sedikit pengetahuan tentang efek yang ditimbulkan selama hujan. Saat hujan turun, saluran air dan gorong- gorong terhalang oleh bongkahan besar sampah dan puing-puing, dan air masuk ke jalan-jalan dan

rumah penduduk. Oleh karena itu pendidikan sangat penting untuk menginformasikan dan mewaspadai masyarakat tentang bahaya banjir, penyebab banjir, dan apa yang dapat dilakukan untuk meminimalkan dampaknya.

Didaerah hilir dibangun waduk kecil yang terhubung ke saluran air untuk menyediakan penyimpanan sementara air banjir. Artinya, jika terjadi banjir, air dialirkan ke dalam bak terlebih dahulu, sehingga masyarakat memiliki lebih banyak waktu untuk mengungsi. Hal ini juga dapat mengurangi besarnya banjir di bagian hilir. []

Komentar

  Loading...