Orasi Ousman tentang Omar dan Investasi Asing di Aceh

Oleh: Ferdi Nazirun Sijabat @FerdiNazirun (Redaktur Ekonomi dan Bisnis Acehnews.id dan Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Sabang)

Orasi Ousman tentang Omar dan Investasi Asing di Aceh
Ilustrasi
A A A

Dukungan Gubernur Nova juga cukup positif dan begitu juga pemerintah pusat.  Soal rencana investasi di Pulau Banyak ini boleh dibilang sebagai peluang yang tak terduga.

OUSMANE Dione tampil sebagai pembicara kunci pada konferensi investasi yang digelar Pemerintah Vietnam di Kota Hanoi akhir Juni 2020 lalu. Ousman dalam kapasitasnya sebagai Direktur Bank Dunia untuk Vietnam diminta berbicara di forum itu dengan tema bagaimana suatu Negara mengelola investasi asing.

Dia mengawali orasinya dengan membuat analogi pemain sepak bola asing dan Vietnam. Pemain sepak bola asing itu adalah Pape Omar Faye, yang akrab disapa Omar.

Pemain yang merumput di Vietnam sejak tahun 2011 ini telah mengukir prestasi terbaik dengan menorehkan satu gelar Vietnam Super Cup tahun 2018, dan gelar Liga Vietnam pada tahun 2019 yang disertai dengan sontekan 16 gol sepanjang tahun 2019 yang ikut menobatkannya sebagai top skor.

Ousman mengurai sepintas tentang lanskap investasi global pasca pandemic Covid-19. Diakuinya ada banyak tantangan yang tak terduga dalam hal investasi. Karenanya banyak hal yang terhenti dan memberi dampak yang luas terhadap investasi.

Tetapi, pandemic juga membuka peluang yang tak pernah diduga sebelumnya. Banyak perusahaan mulai melakukan relokasi bisnisnya dari suatu Negara ke Negara yang lain, karena berbagai alasan. Entah itu atas alasan kesehatan dan keselamatan maupun atas alasan geopoilitik.

Sebagaimana diberitakan oleh berbagai media, sejumlah perusahaan Jepang di Tiongkok, telah berinisiatif untuk merelokasi bisnis setelah pemerintah Jepang meluncurkan  dukungan finansial atas inisiatif itu. Perusahaan Jepang diberi kebebasan untuk merelokasi bisnisnya kembali ke Jepang atau ke Negara-negara lainnya di Asia.

Melanjutkan orasinya di forum itu, Ousman pun berkisah tentang teman senegaranya, Omar yang bukan hanya berhasil menorehkan prestasi tetapi juga menjadi contoh yang patut dijadikan rujukan pemerintah Vietnam dalam mengelola investasi.

Pelajaran pertama dari Omar adalah sebagai pemain professional dia menemukan Vietnam sebagai satu lingkungan yang membuat bakat dan karir sepakbolanya bisa tumbuh, berkembang dan berprestasi.

Ousman kemudian menyebutkan, seperti halnya Omar, perusahaan multinasional akan menemukan Hanoi sebagai kota dengan lingkungan yang kondusif bagi investasi asing untuk tumbuh dan berkembang.

Kota Hanoi, tidak hanya menawarkan sumber daya tradisionalnya seperti tenaga kerja yang murah dan produktif, stabilitas politik, dan konektivitas infrastruktur yang baik, tetapi juga memiliki kemampuan menangani Covid-19 yang cukup mumpuni, kepada investor asing. Ini menurutnya adalah alat promosi terbaik yang dimiliki Hanoi saat ini.

Kedua, Omar sukses tidak hanya untuk dirinya, sebab kesuksesannya juga ikut dibarengi dengan tajamnya performa rekan-rekan setimnya di Hanoi FC, Do Hung Dung, Nguyen Van Quyet, Doan Van Hau, dan Nguyen Quan Hai.

Pelarajannya di sini adalah penting untuk menarik investor yang kuat, tetapi yang jauh lebih penting adalah bagaimana investasi asing yang masuk itu bisa memperkuat jejaring dan kolaborasinya dengan perusahaan lokal.

Ketiga, pelajaran dari Omar adalah bagaimana dia membawa bakat dan keahlian bermain bola ke Hanoi FC yang menginspirasi rekan setimnya dalam peningkatan skil dan kinerja tim.

Kondisi yang sama juga berlaku bagi investasi asing, pemerintah harus selektif memilih investasi asing yang mampu memberi investasi bagi perusahaan dalam negeri, terutama mereka yang bersedia mentransfer teknologi, pengetahuan kepada perusahaan dan tenaga kerja lokal.

Keempat, Omar sejak kedatangannya ke Hanoi pada tahun 2011 hingga kini terus memberikan kontribusi kepada klubnya. Atas dasar itu, pemerintah Vietnam tentunya dapat mengundang investasi asing tidak hanya sekedar investasi tetapi juga dapat memberikan investasi maksimal dalam jangka waktu yang panjang.

Investasi Asing di Aceh

AKHIR tahun lalu ada kabar baik tentang investasi asing di Aceh. Maklum setelah sekian lama sepi dari pemberitaan, kehadiran salah seorang petinggi Murban Energy dari Uni Emirat Arab, paling tidak, mampu menghilangkan keraguan tentang komitmen Pemerintah UAE dan Pemerintah pusat melalui Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan untuk mendorong tumbuhnya investasi asing di Aceh.

Ibaratnya, peran Murban Energy di Pulau Banyak nanti   tak ubahnya peran  Omar bagi Hanoi FC. Bagaimana Pulau Banyak dapat disetting menjadi lingkungan tempat di mana Murban Energi bisa tumbuh dan berkembang.

Pertumbuhan Murban bukan hanya untuk dirinya tetapi juga membawa dampak positif bagi kemajuan Pulau Banyak dan masyarakatnya.

Tidak hanya itu, Murban juga harus menjadi inspirasi dan mau mentransfer sumber daya dan  pengetahuannya kepada perusahaan lokal, sehingga   entitas usaha dan bisnis lokal bisa bangkit dan berdaya saing.

Karena itu, ketertarikan investor UAE untuk berinvestasi di Pulau Banyak tentu tidak hanya selesai pada proses kunjungan awal dan sambutan seremoni.

Pemerintah Aceh melalui instasi terkait perlu menindaklanjuti dan mengawal rencana investasi itu. Hal ini perlu digarisbawahi, karena belajar dari banyak rencana investasi yang masuk ke Aceh selama dua dekade lalu yang berujung tanpa realisasi.

Beberapa diantaranya ada yang sudah MoU dan MoA, tetapi tetap juga gagal. Kegagalan ini umumnya disebabkan oleh banyak faktor baik di sisi daerah tujuan investasi sendiri maupun perusahaan penanaman modal asing (PMA).

Sejauh ini pemerintah Aceh dan Pemkab Singkil telah merespon secara positif dan memfasilitasi kunjungan ekskutif Murban Energi selama di Banda Aceh, Singkil dan Pulau Banyak.

Dukungan Gubernur Nova juga cukup positif dan begitu juga pemerintah pusat.  Soal rencana investasi di Pulau Banyak ini boleh dibilang sebagai peluang yang tak terduga.

Seperti halnya orasi Ousman tentang peluang investasi di Kota Hanoi di masa pandemi, meskipun Aceh, khususnya Pulau Banyak tak semirip Hanoi, Vietnam, tetapi di saat pandemik ini optimisme untuk menarik investasi asing justru perlu terus dibangun.

Bukankah kedatangan satu calon investor saja untuk saat ini sulit seperti sekarang ini adalah satu pertanda baik. Itu artinya situasi sulit tak selamanya menyulitkan.

Karena keyakinan kita pada firman Allah tentang adanya  kemudahan dibalik kesukaran. Optimisme di sini bukanlah zona untuk berhenti, sebab ada tugas lain yang jauh penting untuk dilakukan Pemerintah Aceh pasca-kunjungan investor itu.  

Ada empat factor kunci yang perlu perhatian Pemerintah Aceh : 1. Peningkatkan sumber daya aparatur dan kapasitas pemerintah setempat dan infrastruktur, 2. Peningkatan kompetensi sumber daya manusia (masyarakat), dan 3. Peningkatan kapasitas pengusaha lokal baik di Pulau Banyak maupun Singkil. 4. Mengantisipasi perubahan social dan potensi konflik kepentingan Antara mayarakat dan korporasi.

Peningkatan sumber daya manusia dan kapasitas kelembagaan dalam melayani investasi asing termasuk dalam negeri juga perlu ditingkatkan. Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil perlu menjadi mitra dan fasilitator yang konstruktif terhadap kehadiran investasi. Menjadi pengarah dan pemandu dalam menaati isu-isu social budaya, lingkungan dan kelestarian alam, sehingga kehadiran investasi dapat dinikmati secara berkelanjutan.

Selain itu, infrastruktur dan konektivitas juga menjadi penting dipersiapkan, ketersediaan energy listrik dan kebutuhan infrastruktur pendukung lainnya. Syukur, pemerintah telah menyiapkan armada pengangkutan yang memadai dengan KMP Aceh Hebat 3. Ini menjadi modal awal untuk memudahkan arus kunjungan wisatawan ke Pulau Banyak.

Dari aspek pengembangan sumber daya manusia, pemerintah Aceh dan Pemkab Aceh Singkil perlu mebuat kebijakan dan program yang mendukung peningkatan keahlian dan kompetensi angkatan kerja baik yang berasal dari lulusan SMA, Perguruan Tinggi (Vokasi maupun Akademik).

Program peningkatan sumber daya manusia lokal diarahkan sejalan dengan rencana bisnis Murban Energy ke depan.  Karena tidak dapat dipungkiri, sebagai sebuah korporasi, Murban tentunya membutuhkan tenaga kerja yang punya kompetensi di bidang bisnis intinya, berkomunikasi dalam bahasa asing dan keahlian lainnya terkait dengan sektor pariwisata dan perhotelan.

Tidak hanya itu, kehadiran satu investasi besar juga akan membuka peluang bagi hadirnya usaha-usaha pendukung dalam bentuk keterkaitan ke belakang (backward linkage) seperti perusahan pemasok kebutuhan usaha resort atau perhotelan, dan juga keterkaitan ke depan (forward linkage) dengan perusahaan penerbangan, pemasaran, travel dan perbankan dan yang lainnya. 

Ini nantinya akan menuymbuhkan satu  ekosistem industri pariwisata di kawasan itu yang diharapkan membawa dampak positif bagi kemajuan daerah, kesejahteraan masyarakat.

Dari sisi perusahaan lokal, mereka juga perlu ditingkatkan kapasitasnya sehingga mampu mengakses berbagai peluang bisnis yang tersedia dengan kehadiran investasi Murban Energi.

Pada saat bersamaan, perusahaan lokal yang menjadi mitra juga berpeluang mendapatkan transfer pengetahuan dan lebih familiar dengan system yang dijalankan perusahaan investasi asing. Semakin banyak perusahaan lokal yang berdaya dan kompetitif, tentu akan semakin baik bagi pembangunan daerah.

Terakhir, yang juga memerlukan perhatian pemerintah adalah bagaimana mengantisipasi terjadinya perubahan social akibat hadirnya investasi dan potensi-potensi konflik Antara masyarakat dengan pihak korporasi. Pemerintah harus mampu memetakannya dan kemudian menyelesaikan masalah tersebut dengan arif dan efektif, Sebab, faktor ini jika disepelekan malah bisa menjadi sandungan bagi realisasi investasi.

Di samping pemerintah, pihak korporasi sendirin juga memiliki tanggung jawab social yang harus ditunaikan kepada masyarakat baik pada saat pra kegiatan operasional maupun pada kegiatan operasional di lapangan sudah berjalan.

Kemajuan di Pulau Banyak tentu akan memberi dampak ke Singkil dan kabupaten kota terdekat seperti Subulussalam dan Aceh Selatan. Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil beserta jajaran forkopimda dan berbagai elemen masyarakat tentu juga berperan besar dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi investasi asing.

Dengan demikian, keberadaan investasi asing dapat dimanfaatkan untuk mensejahterakan masyarakat dan menigkatkan pendapatan daerah secara berkelanjutan.[]

acehnews

Komentar

  Loading...