Mungkinkah? Kembali Pada Sistem Pemerintahan Masa Rasulullah

Oleh : Putri Tania Saskia

Mungkinkah? Kembali Pada Sistem Pemerintahan Masa Rasulullah
Ilustrasi
A A A

PEMERINTAHAN Islam merupakan suatu sistem dalam tata kelola pemerintahan yang merujuk kepada syari’at islam. Konstitusi dalam pemerintahan islam berdasarkan pada hukum-hukum syari’at yang telah disebutkan didalam Al-quran dan hadis, baik itu yang membahas mengenai ibadah, aqidah, akhlak, muamalah, hingga berbagai macam hubungan. Oleh sebab itu, hukum yang berlaku dalam sistem pemerintahan Islam harus bersumber dan merujuk pada hukum-hukum Allah.

Kemudian kepemerintahannya dipimpin oleh seorang pemimpin yang dipilih oleh rakyat, yang bertujuan untuk menjalankan pemerintahan dengan baik dan dapat mencptakan kesejahteraan bagi masyarakat.

Islam sejak awal telah memperkenalkan bagaimana sifat kepemimpinan Rasulullah SAW yang sudah seharusnya menjadi panutan bagi pemimpin-pemimpin sesudah beliau.

Rasulullah telah menjadi suri tauladan yang baik bagi manusia, hingga saat ini kita dapat mengambil banyak contoh dari Rasululah terutama dalam hal kepemimpinan pemerintahan.

Rasulullah adalah sosok manusia yang mulia yang menjadi pilihan Allah untuk membawa risalah-Nya. Dalam kepemimpinan Rasulullah lebih mendahulukan sikap keteladanan dan musyawarah. Oleh karena itu, tidak berlebihan jika dikatakan kepemimpinan Rasulullah sebagai kepemimpinan yang demokratis.

Dalam gaya kepemimpinannya, Rasulullah menggunakan pendekatan secara halus atau mengajak dengan tidak melakukan kekerasan.

Hal ini dapat dilihat dari bagaimana sikap Rasulullah saat berhadapan dengan orang Badui yang baru masuk Islam dan masih berat untuk meninggalkan perilaku buruknya.

Salah satu faktor yang menyebabkan orang-orang masuk Islam pada zaman Nabi Muhammad karena mereka merasa terpanggil karena melihat akhlaq beliau yang sangat mulia, tidak dengan menakut-nakuti atau memaksa agar mereka masuk Islam.

Beberapa peneliti dan penulis Barat mengakui kesuksesan Nabi Muhammad sebagai seorang pemimpin. Michael H Hart dalam bukunya yang berjudul The 100 A Ranking Of The Most Influential Person In History menempatkan Nabi Muhammad sebagai peringkat pertama orang yang paling berpengaruh di dunia.

Nabi Muhammad adalah Penyebar agama Islam, penguasa Arabia, mempunyai karir politik dan keagamaan yang luar biasa, namun tetap seimbang dan serasi, sehingga Nabi Muhammad memiliki banyak pengikut, dan juga menjadi panutan seluruh masyarakat dunia hingga saat ini.

Michael H Hart menilai bahwa Muhammad sebagai tokoh paling berpengaruh sepanjang sejarah manusia. Menurut Michael H Hart, Nabi Muhammad adalah satu-satunya orang yang berhasil meraih keberhasilan yang luar biasa baik dalam hal spiritual maupun kemasyarakatan.

Michael H Hart mencatat bahwa Nabi Muhammad mampu mengelola bangsa yang awalnya jahil, terbelakang, dan terpecah-belah oleh sentimen kesukuan menjadi bangsa yang maju dalam bidang ekonomi, kebudayaan, dan kemiliteran bahkan sanggup mengalahkan pasukan Romawi yang saat itu merupakan kekuatan militer terdepan di dunia.

Pada Praktek pemerintahan yang telah dilakukan oleh Rasulullah sudah amat sangat demokratis walaupun undang-undangnya berdasarkan pada wahyu Allah swt dan Hadis beliau termasuk Piagam Madinah, dan tidak melakukan tindakan otoriter meskipun sangat memungkin untuk dilakukan karena status beliau sebagai Rasul Allah swt. Dalam sistem pemerinthan Negara Madinah terdapat dua kedaulatan, yaitu:

1.       Kedaulatan syariah Islam, sebagai undang-undang Negara Madinah, dan

2.       Kedaulatan umat

Pada satu segi, syariah Islam sebagai undang-undang membatasi kekuasaan umat untuk membuat undang-undang mengenai hukum apabila sudah jelas dalam nash syariah. Tetapi di sisi lain memberi kebebasan umat untuk menetapkan hukum yang belum jelas hukumnya supaya melakukan musyawarah terhadap persoalan yang dihadapi.

Kapasitas Rasulullah saw sebagai seorang kepala negara dibuktikan dengan tugas-tugas yang telah beliau lakukan, yaitu membuat undang-undang dalam bentuk tertulis, mempersatukan Penduduk Madinah yang bercorak heterogen untuk mencegah timbulnya konflik-konflik di antara mereka agar terjamin ketertiban interen, mengadakan perjanjian damai antara tetangga agar terjamin Ketertiban eksteren, menjamin kebebasan bagi semua golongan, mengorganisisr militer dan memimpin peperangan, melaksanakan hukum bagi pelanggar hukum dan perjanjian, menunjuk wakil apabila beliau bertugas keluar, melaksanakan musyawarah dan sebagainya.

Pada masa pemerintahan Rasulullah di Madinah, mampu untuk membentuk suatu sususan politik yang sempurna yang dipadukan dengan kearifan lokal dan juga ajaran Islam.

Sistem ini menguatkan hubungan diantara instrumen-instrumen negara yang satu dengan yang lainnya, yang berada dalam satu pemerintahan dengan cara memberikan pengakuan hak-hak pada negara bagian (provinsi) dan wilyah pendudukan.

Hubungan dengan pemerintahan pusat ditingkatkan untuk memperkuat sistem sosial dan menjamin adanya pembagian kekuasaan denagn adil.

Rasulullah sebagai kepala negara bertanggung jawab penuh dalam melantik dan mengangkat dewan penasihat (mustasyar), sekretaris (katib), staf khusus, ajudan, juru bicara, staf ahli (syu’ara dan kutaba’), gubernur, kepala daerah, dan pejabat umum (wali), hakim dan jaksa (qudat), dan pejabat serta petugas pasar dan keuangan (sahib al-suq). Setiap lembaga negara yang bertugas mengurusi rakyat bertanggung jawab penuh kepada kepala negara dan diawasi oleh badan pengawas khusus yang tergabung dala majelis nuqaba’.

Melalui Rasulullah kita dapat belajar bagaimana menjadi seorang pemimpin. Sebagaimana Rasulullah sebagai seorang pemimpin berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dihadapan hukum. Perbedaan satu-satunya antara Rasulullah dan kita umat manusia yaitu beliau diberikan wahyu oleh Allah melalui malaikat Jibril sebagai alat untuk pembuktian beliau sebagai seorang Rasul Allah, dan senantiasa dibimbimbing oleh Allah dalam melakukan suatu tindakan atau pilihan yang tidak tepat.

Peran seorang pemimpin sangat penting bagi anggota atau instansi yang dipimpinnya, karena seorang pemimpin yang baik mampu membawa perubahan positif terhadap apa yang dipimpinnya, dan sebaliknya juga dapat membawa perubahan negatif. Kepemimpinan seorang pemimpin mempengaruhi arah dan gerak lembaga yang dipimpinnya.

Seorang pemimpin yang menginginkan keberhasilan dalam lembaga yang di pimpinnya harus memiliki suatu kelebihan yang dapat diteladani oleh bawahannya.

Pemimpin yang baik memahami bahwa keteladanan merupakan suatu alat bantu yang efektif dalam menjalankan kepemimpinannya, keteladanan yang diberikan oleh seorang pemimpin jauh lebih berpengaruh dibandingkan hanya memberikan nasehat tanpa memberikan contoh yang baik.[]

Falevi Kirani Idul Fitri
Iklan BPD Idul Fitri
ESDM Idul Fitri

Komentar

  Loading...