Menentang Tabiat Sosial

Oleh: Kautsar Muhammad Yus (Mantan aktifis '98)

Menentang Tabiat Sosial
Kautsar Muhammad Yus
A A A

Cukup berikan mereka stimulus atau bonus yang menggembirakan sehingga vaksinasi menjadi sesuatu yang happy

SESUATU yang baru pasti ada penolakan diawal. Memang sudah biasa begitu. Sudah menjadi tabiat manusia, tabiat sosial bahkan tabiat alam sekalipun yang katanya mutlak diatur oleh hukumnya sendiri.

Semua orang, semua situasi sosial bahkan alam sekalipun memiliki imunnya sendiri dari setiap hal-hal baru yang biasanya datang dari luar dirinya.

Kemapanan sebuah situasi, suasana dan setiap strata sosial di suatu lingkungan merupakan bentukan dari pergumulan panjang yang memakan waktu.

Ketika datang sesuatu yang baru secara alamiah pula melahirkan reaksi penolakan terhadap sesuatu yang baru tersebut.

Yang baru dianggap ketidak laziman. Dianggap sebagai protes atas kelaziman yang ada. Menabrak perangkat serta strata sosial tertentu yang diuntungkan dari suatu kelaziman. Melabrak kebudayaan yang sudah mapan.

Ilustrasi

Disinilah kelompok pembaharuan selalu menemukan masalahnya. Konservatifme melawan modernisme. Di tempat tertentu konservatifme sering memenangkan pergulatan. Di tempat tertentu pula justru modernisme yang menang.

Setiap hal yang baru dituntun untuk melewati beberapa ujicoba kelayakan. Salah satu alat uji yang paling popular di dunia ketiga adalah agama dan ideologi politik.

Salah satu yang sedang diperdebatkan sekarang oleh khalayak adalah vaksinasi covid 19. Ada pro dan kontra. Alat ukur yang dipakai untuk menilainya ialah agama dan ilmu kesehatan.

Dalam peristiwa lain dengan bobot yang sama; saat pemerintah menggalakkan program Keluarga Berencana, oleh berbagai kalangan akar rumput di Aceh menolak kampanye pemerintah untuk menekan angka kelahiran manusia.

Alasan agama dan budaya mendominasi penolakan ini.  “Bukankah Tuhan sudah mengatur rezeki setiap anak manusia yang Ia lahirkan ke dunia?”, Kata pendakwah dalam setiap ceramah dan khutbah.

Atau dalam konteks adat sering sekali pepatah “banyak anak banyak rezeki” mematahkan argumen juru penerangan pemerintah. 

Belakangan saya tahu kenapa ramai alumni IAIN (Institut Agama Islam Negeri) direkrut menjadi pegawai di kantor Departemen Penerangan dan BKBBN. Rupanya untuk membantu pemerintah menjadi corong penyelarasan antara agama dan pembangunan, agama dan modernisme.

Tidak saja dalam pengaturan jumlah anak yang menjadi kontroversi, bahkan dalam hal menggunakan traktor untuk membajak sawah juga pernah menjadi sesuatu diperdebatkan.

Pada awalnya ada anggapan miring kepada petani yang memakai traktor dalam membajak sawahnya, sebab setoran zakat dari petani yang memakai traktor lebih sedikit daripada petani yang membajak memakai kerbau dan tenaga manusia.

Ada label kikir kepada pembajak yang memakai mekanisasi dalam menunjang kerja-kerjanya.

Namun seiring waktu baik dalam persoalan keluarga berencana mahupun mekanisasi alat pertanian menemukan kesesuaiannya sendiri dengan lingkungannya, mulai dilihat lazim dan kini dilihat sebagai sebuah keharusan.

Begitulah modernisasi atau pembaharuan menemukan jalannya sendiri.

Begitu juga dengan suntik vaksin anti covid saat ini. Meski masih ada ketakutan-ketakutan atau masih dilihat bukan sebuah kebutuhan bahkan dianggap sesuatu yang berbahaya, maka tinggal waktu yang akan memutuskannya.

Meski demikian pemerintah tak perlu juga terlalu reaktif memaksa masyarakat untuk dicucukkan jarum vaksin ditubuh mereka dengan pemberian sanksi-sanksi. Cukup berikan mereka stimulus atau bonus yang menggembirakan sehingga vaksinasi menjadi sesuatu yang happy.[]

acehnews

Komentar

  Loading...