Mahasiswa yang Depresi di Tengah Pandemi

Mahasiswa yang Depresi di Tengah Pandemi
Ilustrasi #jagajarak
A A A

 

Oleh: Siti Rahima (Mahasiswa semester 2 jurusan Statistika, Fakultas Matematika dan Pengetahuan Alam, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh)

 

COVID-19 mulai menjadi pusat perhatian dunia setelah memakan ribuan korban, bahkan sampai sekarang masih terus menjadi sesatu yang mengancam bagi penduduk dunia.

Di Indonesia sendiri, pandemi ini baru mendapat perhatian khusus setelah Presiden Jokowi mengumumkan adanya warga Indonesia yang terjangkit atau positif virus corona.

Pengumuman ini disampaikan presiden pada saat dua orang dinyatakan positif virus Corona.

Meski begitu, berita tentang dua orang positif tersebut tidak menghalangi warga Indonesia untuk tetap beraktivitas di luar rumah, mungkin mereka menganggap ini virus biasa. Hingga pada akhirnya, di penghujung Februari, pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk memberlakukan social distancing di Indonesia.

Akibatnya, semakin hari semakin banyak korban yang berjatuhan dan semakin banyak yang positif covid-19 di Indonesia, dari awalnya hanya dua orang menjadi ratusan dan terus berkembang menjadi ribuan yang dinyatakan positif Covid-19.

Di Provinsi Aceh, pada minggu pertama April kasus Covid-19 sudah tercatat 1.282 orang dalam pemantauan, 57 dalam pengawasan dan 5 orang positif Covid-19. Informasi ini disampaikan oleh Dinas Kesehatan Aceh melalui laman resmi dinkes.acehprov.go.id, pukul 15:00 WIB.

Hal ini membuat pemerintah Aceh mengambil kebijakan cepat dengan melakukan berbagai kebijakan untuk antisipasi dan pencegahan penularan Covid-19 di Aceh.

Tentu saja, kebijakan ini berdampak pada proses belajar mengajar, mulai dari tingkat SD, SMP, SMA bahkan sampai tingkat perguruan tinggi.

Sejak minggu kedua bulan Maret, seluruh aktivitas akademik perguruan tinggi di Indonesia, termasuk di Aceh, dihentikan selama 14 hari.

Pemberhentian ini awalnya membuat sebagian mahasiswa salah memahami maksud dari kebijakan ini, sehingga tidak sedikit mahasiswa yang merasa senang karena mendapat libur selama dua pekan.

Libur ini dimanfaatkan mahasiswa untuk pulang kampung meski sebenarnya itu dilarang.

Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, pemberhentian belajar mengajar ini membuat mereka menyadari bahwa proses belajar mengajar bukan ditiadakan, tetapi tetap dilaksanakan secara online yang kemudian disebut daring.

Seiring dengan berita Covid-19 di Aceh semakin massif, akhirnya kebijakan proses belajar mengajar di seluruh jenjang pendidikan juga dihentikan sampai akhir semester.

Seluruh perguruan tinggi yang ada di Aceh, baik negeri maupun swasta, juga ikut berpartisipasi dalam pemutusan mata rantai virus Corona ini dengan melanjutkan perkuliahan secara daring sampai wabah nantinya dianggap benar-benar tuntas.

Mahasiswa yang masih berada di Banda Aceh diperbolehkan untuk pulang kampus dengan syarat harus mengisolasi diri selama 14 hari. Hal ini sesuai dengan SE Rektor Nomor B/1669/UN11?KP.11.00/2020.

Perkuliahan online atau perkuliahan tanpa tatap muka dianggap sebagai solusi yang tepat dalam mengatasi penyebaran virus Corona dan dapat mengatasi keterlambatan pentransferan ilmu dalam proses akademik dari dosen pengampu kepada mahasiswa.

Akan tetapi, banyak mahasiswa yang mengeluh dengan kuliah daring tersebut. Sebagian mahasiswa mengeluh karena proses belajar mengajar dianggap tidak berjalan efektif dan efesien.

Mereka beranggapan bahwa banyak tantangan dan kendala dalam pengoperasian kuliah daring, diantaranya ialah tugas yang menumpuk dan jarak interval waktu yang singkat, ditambah lagi ada sebagian yang mengeluh karena jaringan internet yang terhambat, serta proses diskusi online yang dianggap kurang bersahabat.

Keluhan ini dilampiaskan mahasiswa di media sosial mereka masing-masing. 

Ada yang mengugat , “Jika kuliah daring diadakan tolong suplay kami data internet karena kami membayar UKT, apa gunanya kami membayar jika kami terbeban dengan kuliah online, dan harus membeli kuota internet sendiri?”.

Sebagiannya lagi memasang story dengan caption, “Kampus Lockdown, Tugas Smackdown, Mahasiswa Down”.

Tak sampai di situ, bahkan ada pula yang curhat, “Kuota sekarat, Ilmu tak dapat”.

Seakan tak ada habisnya, keluhan terus berlanjut dengan mahasiswa yang meng-upload video mengenai tanggapan kuliah online yang isinya, “Buntu, Buntu, Buntu, Kuliah Online Buntu atau Dungu”.

Sungguh, Covid-19 ini memberikan kesan tersendiri bagi mahasiswa, semakin depresi ditengah pandemi.

Ada beberapa problem yang paling menggegerkan mahasiswa, diantaranya yaitu mengenai pelaksanaan seminar, sidang, dan konfrehensi yang juga harus dilakukan secara online dengan menggunakan aplikasi Zoom atau sejenisnya.

Tanggapan mahasiswa mengenai seminar online ini sangat beragam, namun rata-rata dari mereka menolak dengan alasan kurang kondusif dan efektif, tidak mendapatkan feel serta terdapat banyak ganguan dalam proses penyampaian dan penerimaan informasi, serta tidak ada kenang-kenangan yang bisa didapat mahasiswa, seperti foto bersama dosen pembimbing dan teman-teman yang telah mendukungnya selama perkuliahan.

Pemberhentian perkuliahan secara tatap muka sejauh ini telah membuat mahasiswa depresi dan putus asa. Berharap bisa kembali belajar secara offline dan tatap muka langsung dengan dosen pengajar seperti biasanya.

Tentu saja kita semua berharap agar Covid-19 ini segera berlalu dan musnah dari muka bumi ini.

Jadi, mulai hari ini jangan pernah sia-siakan kuliah offline lagi, mari selalu hargai guru atau dosen yang sedang mengajar di depan.

Semoga pandemic ini bisa membuat kita menjadi manusia yang terus bersyukur dan bisa belajar dari segala permasalahan yang ada, berpikir kritis, dan belajar menjadi manusia yang lebih baik lagi, dengan Tuhan, manusia, dan lingkungan.[]

Komentar

  Loading...