Kisah Ucok Sibreh, Korban Selamat Tragedi Tenggelamnya KMP Gurita di Sabang 25 Tahun lalu

Kisah Ucok Sibreh, Korban Selamat Tragedi Tenggelamnya KMP Gurita di Sabang 25 Tahun laluFoto: DOK SERAMBINEWS.COM
KMP Gurita yang tenggalam di Perairan Ujong Seukee, Sabang, 19 Januari 1996.
A A A

Banda Aceh, acehnews.id  --  Jumat, 19 Januari 1996 25 tahun yang lalu,  Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Gurita tenggelam saat melakukan pelayaran dari Pelabuhan Malahayati, menuju Pelabuhan Balohan, Sabang. 

Malam itu pukul 18.45 WIB kapal mulai berlayar. 378 penumpang pulang kampung menuju Sabang untuk menyambut hari meugang dan puasa pertama yang jatuh pada 22 Januari 1996.

Kapal seharusnya sudah bersandar di Pelabuhan Balohan, pada pukul 21.00 WIB. Namun kapal terlalu penuh muatan. Diketahui, KMP Gurita mengangkut barang yang jumlahnya mencapai 50 ton, diantaranya 10 ton semen, 8 ton bahan bakar, dan 15 ton tiang beton listrik.

Belum lagi, muatan bahan sandang-pangan kebutuhan masyarakat Sabang serta 12 kendaraan roda empat dan 16 roda dua.

Muatan sebanyak itu dimasukkan dalam kapal feri buatan Jepang tahun 1970, padahal kapasitas muatan sebenarnya kapal hanya 210 orang.

Dalam pelayaran 5-6 mil laut Perairan sebelum Teluk Balohan, akhirnya kapal bertipe Tipe: Feri Roll On - Roll Off (RORO), dengan Berat: 196,08 Ton, Panjang: 32,45 M, Lebar: 7,82 M, dan Tinggi: 2,54 M, sudah tak mampu melanjutkan pelayaran dan tenggelam.  

Dikutip dari Wikipedia, dari total 378 penumpang, 282 orang di antaranya warga Sabang, 200-an warga luar Sabang, serta 16 warga negara asing.

Dari sumber yang sama,  dari jumlah total 378 penumpang, 40 orang dinyatakan selamat, 54 orang ditemukan meninggal, dan 284 orang dinyatakan hilang bersama-sama dengan KMP Gurita.

Jumlah itu diperoleh setelah seluruh data masuk dari masing-masing daerah. Dari jumlah itu, terbanyak berasal dari Sabang, mencapai 282 orang dan 16 warga negara asing (WNA).

Sebenarnya, beberapa tahun sebelum kapal itu tengelam, masyarakat di Aceh, khususnya di pulau Sabang, sudah memperkirakan bakal terjadi musibah atas KM Gurita.

Perkiraan itu setelah melihat kondisi feri penyeberangan tersebut yang sering batuk-batuk dan tak layak untuk berlayar lagi.

Namun, karena terbatasnya armada angkutan, Ditjen Perhubungan Darat dalam hal ini PT ASDP (Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan) terus mengoperasikan secara reguler kapal tua yang dibuat tahun 1970 di galangan kapal Bina Simpaku, Tokyo, Jepang tersebut.

Kisah Ucok Sibreh Penumpang yang Selamat

Hingga saat ini Selasa 19 Januari 2021, setelah 25 tahun yang lalu, bangkai kapal tersebut juga tidak berhasil di angkat dari dasar laut.

 

Adalah Ucok Sibreh salah seorang penumpang yang selamat dari tragedi itu. Ia mengisahkan kembali dalam laman facebooknya. Berikut kisah tengelamnya KMP Gurita 25 tahun lalu itu.

“Dari Sibreh kami naik Labi-Labi menju Krueng Raya, karna air lautnya sedang surut, maka kapal tidak bisa berangkat dari Sabang sesuai Jadwal, dan siang pada saat Azan Jumat, kapal baru berangkat menuju Malahayati, sesampai di Malahatayi, kapal juga tidak bisa berlabuh secara normal, karena airnya sedang surut, jadi menunggu waktu sama kondisi air kembali pasang, namun sampai Maghrib kondisi air juga belum begitu tinggi, sehingga proses bongkar muat dalam kapal itu tidak begitu sempurna dilakukan, bahkan terjadi penambahan material yang dimasukkan kembali dalam kapal,”

"Kami berangkat tepat pada saat Azan Maghrib, dan saya tidak kuasa dengan kondisi cuaca laut, hingga saya minum obat anti mabuk, karna saya takut muntah. Akhirnya kami tidur di posisi belakang kapal. Jumlah penumpang pada waktu itu sudah offer, kalua kapasitasnya sekitar 200 - 300, ini jumlah penumpangnya sudah tidak kurang dari 500. Karna seingat saya untuk jalan melewati kerumunan itu sudah sangat susah. Akhirnya saya tertidur, dan terbangun ketika awak kapal, meneriakkan kapal goyang, kapal goyang,”

 Akhirnya saya terbangun. Pada saat itu saya dan sahabat saya tidak begitu paham pada kondisi, padahal situasinya sudah sangat membahayakan.  Kami masih santai di belakang, pas dipunggung kapal lantai dua itu ada terali, kami berpengan di terali itu. Dan saya menanyakan kepada teman saya Indra Namanya. Saya masih menyakan nanti kalua liburan mau kemana kita? Dalam kondisi yang tenang dan santai, walaupun kapal itu sudah goyang. Kata sahabat Saya, kita pergi yang jauh, kemana Ndra, ke Lhokseumawe? Tidak, kita akan pergi ke tempat yang jauh sekali katanya. Itu tanda-tanda perpisahan yang akan kami alami.”

“Akhirnya, pada goyangan yang ke tiga, kapal sudah menukik kea rah laut, sudah mulai nyungsep masuk ke air,…”.[]

Komentar

  Loading...