Kilas Balik Pembentukan Bank Syariah Indonesia

Kilas Balik Pembentukan Bank Syariah Indonesia
Pemerintah mendorong pembentukan Bank Syariah Indonesia (BSI) untuk mempercepat pangsa pasar syariah di dalam negeri. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/WAHYU PUTRO A).
A A A

Jakarta, acehnews.id -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah meresmikan PT Bank Syariah Indonesia Tbk atau BSI. Bank ini adalah hasil merger (penggabungan) tiga anak usaha Badan Usaha Milik Negara (BUMN), PT Bank BRI Syariah Tbk, PT Bank Syariah Mandiri (BSM), dan PT Bank BNI Syariah.

Menengok ke belakang, pemerintah sudah mewacanakan pembentukan bank syariah BUMN sejak beberapa tahun terakhir. Eks Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro pada Januari 2019 lalu meminta Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) untuk mendorong realisasi pembentukan bank BUMN syariah.

Hal ini dilakukan sebagai langkah mempercepat pangsa pasar syariah di dalam negeri. Mulanya, Bambang mengusulkan merger bank syariah BUMN bisa dilakukan oleh BSM, BNI Syariah, BRI Syariah, dan unit usaha syariah (UUS) PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN.

Namun, realisasinya pembentukan bank BUMN syariah hanya dilakukan oleh BRI Syariah, BSM, dan BRI Syariah. Sayangnya, setelah itu belum ada kemajuan yang pasti terkait rencana bank BUMN syariah.

Isu terkait merger bank syariah BUMN kembali berhembus ketika Ketua Tim Project Management Office (PMO) yang kini menjadi Direktur Utama BSI Hery Gunardi pada Oktober 2019 mengungkapkan sedang melakukan proses merger antara BRI Syariah, BNI Syariah, dan BSM.

Pada Oktober 2019, ketiga pihak melakukan penandatanganan Conditional Merger Agreement (CMA). Hal itu merupakan bagian awal dari proses merger.

Selanjutnya, BRI Syariah, BNI Syariah, dan BSM melakukan penandatanganan akta penggabungan pada Desember 2019 sebagai proses lanjutan dari merger bank syariah BUMN.

Kemudian, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) resmi merestui merger BRI Syariah, BNI Syariah, dan BSM pada 27 Januari 2021. Izin tersebut tertuang dalam surat bernomor SR-3/PB.1/2021 tentang Pemberian Izin Penggabungan PT Bank Syariah Mandiri dan PT Bank BNI Syariah ke dalam PT Bank BRI Syariah Tbk.

Selain memberikan izin merger, OJK juga mengizinkan tiga bank syariah tersebut menggunakan nama PT Bank Syariah Indonesia (BSI). Kendati demikian, BSI akan menggunakan izin usaha BRI Syariah dalam menjalankan bisnisnya.

Setelah mendapatkan restu dari regulator, hari ini pemerintah meresmikan pembentukan BSI. Jokowi pun berpesan empat hal untuk perusahaan tersebut.

Pertama, BSI harus benar-benar menjadi bank syariah yang universal.

"Harus terbuka, harus inklusif, harus menyambut baik siapa pun yang ingin jadi nasabah agar menjangkau lebih banyak masyarakat di tanah air," kata Jokowi.

Ia mengingatkan bahwa BSI bukan hanya untuk masyarakat beragama Islam. Namun, manajemen juga harus menyambut baik masyarakat non Islam yang ingin melakukan transaksi lewat BSI.

Kedua, BSI harus bisa memaksimalkan penggunaan teknologi digital. Menurut Jokowi, digitalisasi merupakan hal yang wajib agar jangkauan BSI lebih luas.

Ketiga, BSI harus menarik minat generasi muda untuk menjadi nasabah. Jokowi menyatakan jumlah generasi milenial saat ini mencapai 25 persen dari total penduduk Indonesia yang berjumlah 277 juta orang.

Keempat, produk dan layanan BSI harus kompetitif dan memenuhi kebutuhan seluruh segmen mulai UMKM hingga korporasi. Selain itu, BSI juga harus memberikan fasilitas kepada seluruh nasabah sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Sebagai informasi, total aset BSI tercatat sebesar Rp240 triliun. Sementara, total pembiayaan Rp157 triliun, DPK Rp210 triliun, dan modal inti Rp22,6 triliun.[]

Sumber:CNN

Komentar

  Loading...