Kapan Puncak Pandemi Covid-19 di Indonesia? Ini Prediksinya

Kapan Puncak Pandemi Covid-19 di Indonesia? Ini Prediksinya
Foto: Ilustrasi Swab Test Covid-19 (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)
A A A

Jakarta, acehnews.id -- Gelombang kasus Covid-19 diperkirakan masih akan terus naik hingga tahun depan karena belum ada tanda-tanda penurunan kasus yang berarti.

Padahal beberapa negara tetangga sudah mulai hadapi gelombang kedua dan sudah ada yang bisa mengatasinya.

Lantas kapan puncak corona di Indonesia?

Indonesia saat ini masih berada pada gelombang pertama yang belum menunjukkan tanda penurunan kasus, dan berpotensi tetap naik hingga tahun depan jika tidak ada perubahan dalam penanganannya.

"Kami memprediksi Indonesia sudah berhasil mencegah gelombang kedua, karena gelombang pertama belum dilewati," kata Epidemiolog Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia (FKM UI) Pandu Riono kepada CNBC Indonesia, dikutip Jumat (30/10/2020).

"Trennya masih meningkat sampai akhir tahun meningkat kalau tidak ada perubahan bisa sampai tahun depan, jadi memang konsistensi penangan pandmei kita tidak bisa setengah."

Dari sisi data Covid-19, data Kementerian Kesehatan mencatat kasus konfirmasi positif corona di RI menjadi 404.048 orang per 29 Oktober 2020, ada penambahan 3.565 kasus positif.

Sedangkan kasus sembuh menjadi 329.778, bertambah 3.985 kasus dan meninggal total menjadi 13.701, bertambah 89 kasus.

Lebih lanjut, Pandu mengatakan kegiatan ekonomi tetap harus dilakukan, namun tetap harus dibarengi dengan protokol kesehatan yakni memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak untuk mengurangi risiko penularan.

Dari sisi pemerintah harus memperkuat jumlah tes untuk mencari pasien yang positif, tracing, dan perawatan bagi mereka yang sakit (test, trace, treat/3T).

"Dua kombinasi itu kita bisa menekan penularan, tetapi keduanya kan tidak terjadi. Perilaku penduduk masih rendah memakai maskar ini contoh sulitnya mengendalikan pandemi Covid-19," katanya.

Pandu juga menyayangkan selama ini himbauan dari pemerintah masih di atas kertas, dan masih banyak kontradiktif, serta banyak masyarakat yang tidak patuh.

Dia mencontohkan kebijakan cuti bersama yang dilakukan pekan ini. Padahal dengan adanya libur panjang, masyarakat terdorong untuk berpergian sehingga dapat meningkatkan penularan.

"Masih banyak yang tidak peduli dan merasa tidak berisiko, masyarakat sudah capek karena selama ini dilarang ini dan itu. Kelihatannya masyarakat sudah bosan dan tidak punya harapan kapan pandemi ini berakhir. Apakah mereka kan meningkatkan penularan, mungkin saja seperti itu," tambahnya.

Jika masyarakat bergerak ke suatu wilayah kalau mereka tidak patuh pada protokol kesehatan maka potensi penularan dimungkinkan terjadi. Dia menyayangkan libur panjang kali ini merupakan pilihan pemerintah dengan cuti bersama.

Hal ini merupakan upaya mendorong perekonomian untuk mengatasi dampak pandemi, padahal untuk mencegah penularan kegiatan masyarakat harus dibatasi.

Inilah yang menurut Pandu, merupakan kontradiksi antara pemulihan ekonomi dengan penanganan pandemi Covid-19. Apalagi banyak diskon dan paket-paket perjalanan yang disediakan untuk menarik orang berpergian.

"Betul sekali [masih kontradiktif] membuat yang mengamati pandemi ini bingung, kita mau mengatasi pandemi atau mendorong pandemi Covid-19 berlangsung," ujarnya.

Selain itu, vaksin yang ditunggu-tunggu sebagai pencegah penularan pun kecil kemungkinan pemerintah akan tetap melakukan vaksinasi pada November mendatang. Apalagi hingga saat ini belum ada izin dan efikasi (keyakinan efektivitas) dari vaksin tersebut.

"Kita belum ada izin karena belum tahu vaksin yang mana nantinya walaupun sudah ditentukan yang kami khawatirkan ada unsur tekanan pada BPOM [Badan Pengawas Obat dan Makanan] untuk mengeluarkan izin darurat penggunaan," kata Pandu.

Walaupun memang izin penggunaan darurat dimungkinkan, Pandu meminta agar tidak ada desakan kepada BPOM karena tugasnya memastikan obat aman untuk masyarakat. Dibutuhkan waktu cukup panjang, dan dia meragukan tahun ini dapat dilakukan vaksinasi.

"BPOM bertugas melindungi masyarakat tunggu semua hasil studi sehingga benar-benar bisa melaksanakan vaksinasi dengan aman dan efektif," tambahnya.

Sementara itu, dari sisi global, data Worldometer pada Kamis malam pukul 12.00 WIB, juga mencatat, jumlah positif corona secara global terus bertambah dan menembus 45,047 juta dengan jumlah kematian 1,18 juta dengan jumlah sembuh mencapai 32,85 juta orang.

AS masih berada di urutan pertama dengan jumlah positif mencapai 9,14 juta dengan penambahan baru dalam sehari mencapai 26.488 orang.[]

Sumber:CNBCIndonesia

Komentar

  Loading...