Jika Joe Biden Menang di Pilpres AS, Ini 5 Prediksi Imbas Terhadap Ekonomi RI

Jika Joe Biden Menang di Pilpres AS, Ini 5 Prediksi Imbas Terhadap Ekonomi RI
Joe Biden saat berkampanye secara drive-in di Heinz Field in Pittsburgh, Pennsylvania, 2 November 2020. REUTERS/Kevin Lamarque
A A A

Jakarta, acehnews.id  - Penghitungan suara dalam pemilihan presiden Amerika Serikat masih berlangsung sejak kontes politik itu digelar 3 November 2020. Hingga Jumat dinihari, 6 November 2020 pukul 04.01 WIB, dilansir dari Reuters, calon presiden Joe Biden masih unggul atas petahana Presiden Donald Trump. Biden terpantau mengantongi 253 suara elektoral, sementara Trump 214 suara elektoral.

Keunggulan Biden tersebut membawa sejumlah kalangan untuk menebak-nebak arah kebijakan Abang Sam apabila dipimpin oleh nakhoda baru. Sejumlah ekonom menduga calon presiden dari Partai Demokrat itu akan membawa kebijakan yang jauh berbeda dari presiden saat ini, Trump.

Tempo telah mencatat sejumlah prediksi lima ekonom mengenai lansekap ekonomi apabila Amerika Serikat dipimpin oleh Biden. Berikut ini adalah rinciannya.

1. Perang Dagang Mereda

Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal mengungkapkan, sentimen positif bagi arus perdagangan dunia muncul jika Pilpres benar-benar dimenangkan oleh Joe Biden. Sebab, Joe Biden merupakan antitesis Trump yang ditengarai mampu meredam tensi perang dagang AS-Cina. Perang dagang ini menyebabkan kondisi perdagangan global dalam beberapa tahun terakhir gonjang-ganjing.

“Biden akan memberikan approach yang berbeda dengan Trump. AS tidak lagi frontal, tapi bisa menjalin kerja sama yang dialogis terutama dengan negara yang selama ini menjadi rival besarnya, seperti Cina,” katanya saat dihubungi, Kamis, 5 November 2020.

Tensi perang dagang yang menyurut diharapkan bisa meningkatkan lalu-lintas perdagangan dunia sehingga pertumbuhan ekonomi global pun terdongkrak. Tak khayal, Indonesia akan merasakan dampak dari sentimen positif itu, seperti cerahnya kembali arus perdagangan ke negara-negara maju.

2. Arus Modal Mengalir ke Negara Berkembang

Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai stimulus lebih besar yang diinginkan partai pengusung Biden akan mendorong likuiditas dolar di pasar keuangan global, sehingga mendukung potensi penguatan mata uang negara berkembang dan dampaknya aliran modal asing masuk ke negara berkembang.

“Biden dianggap cenderung lebih baik secara umum dalam menjaga stabilitas pasar keuangan dan mempercepat pemulihan ekonomi global dan di AS dengan jumlah stimulus yang besar itu, beda dengan Biden, Trump penuh ketidakpastian, mungkin itu yang kurang disukai pasar,” ujarnya, dilansir dari Bisnis, Kamis, 5 November 2020.

3. Pasar Keuangan Lebih Moncer

Ekonom sekaligus dosen Perbanas Institute, Piter Abdullah, memberikan gambaran dari sisi lain. Piter mengungkapkan, bila kemenangan di Pilpres AS diraih oleh Biden, pasar keuangan dunia termasuk Indonesia akan lebih moncer. “Ada keyakinan bahwa ketidakpastian dan perang dagang akan berakhir,” tutur Piter.

Dalam kepemimpinannya empat tahun mendatang, Biden diyakini dapat memberikan harapan bagi pasar dan membalikkan arah kebijakan Trump yang selama ini acap menimbulkan gejolak. Dengan demikian, kondisi geopolitik cenderung akan lebih tenang dan situasi perekonomian bisa diprediksi oleh pasar.

4. Ekspor dari Indonesia Membaik

 

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance atau Indef, Bhima Yudhistira Adhinegara, memprediksi hal serupa. Dia memperkirakan bila Biden unggul dari lawannya, situasi ini akan menguntungkan Indonesia. Sebab, keran ekspor Indonesia akan pulih terutama dalam hal pengiriman komoditas ke AS. Ekspor bahan baku ke Cina pun akan membaik.

Dalam hal stimulus, Biden pun dinilai lebih pro terhadap kelas menengah AS yang merupakan pasar besar produk garmen dan alas kaki dari Indonesia.

“Berbeda dengan Trump yang pro terhadap keringanan pajak bagi kelas atas/elite,” ucapnya.

Di sisi lain, Bhima menjelaskan, Biden yang merupakan sosok antitetis Trump, khususnya di bidang kebijakan lingkungan, akan menghambat ekspor komoditas energi Indonesia berbasis fosil dan kelapa sawit. Ia menduga hambatan non-tarif akan muncul, yakni hal-hal yang meliputi pemenuhan standar lingkungan. Standar ini kelak bakal diperketat.

“Produsen sawit harus bersiap siap,” ucap Bhima.

5. Kesepakatan Dagang RI-AS Perlu Dinegosiasi Ulang

Ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal Hastiadi memperkirakan pemerintah harus memulai dari awal pembahasan kesepakatan perdagangan yang sebelumnya diteken oleh Presiden Donald Trump.

Ia menyebutkan pembahasan harus dimulai dari awal karena komitmen kesepakatan dagang Indonesia dengan AS di bawah Presiden Donald Trump sudah jauh lebih dalam.

Salah satu hasil kesepakatan dagang dengan AS di bawah Trump yang dimaksud adalah diperpanjangnya fasilitas GSP oleh AS hingga rencana negosiasi kesepakatan dagang terbatas (LTD).

"Kalau misal Joe Biden yang menang mungkin kita harus memulai pembicaraan lagi dari awal. Tapi Biden pun akan melihat Indonesia penting dan saya rasa ini masalah negosiasi saja," kata Fithra, Kamis, 5 November 2020.[]

Sumber:TEMPO

Komentar

  Loading...