Inilah Perempuan Perempuan Penentang Sang Jenderal Myanmar

Inilah Perempuan Perempuan Penentang Sang Jenderal Myanmar
Salah satu foto viral Ma Kyal Sin saat mengikuti demonstrasi anti-kudeta di Mandalay Rabu (3/3) lalu | TWITTER/@koko11376580
A A A

Jakarta, acehnews.id -- Sampai saat ini, ratusan ribu rakyat Myanmar di seluruh negeri masih berjuang melawan junta militer, menentang kudeta yang dipimpin para jenderal pada 1 Februari lalu. Kudeta tersebut menyingkirkan pemimpin sipil terpilih, Aung San Suu Kyi dan sejumlah pejabat lainnya, memperkuat cengkeraman militer di negara yang dulu bernama Burma tersebut.

Rakyat Myanmar menentang karena tak ingin lagi hidup di bawah kediktatoran militer. Mereka juga menuntut Suu Kyi dibebaskan.

Perjuangan tersebut juga telah memakan korban. Sedikitnya 50 orang tewas karena kebrutalan aparat dalam menghadapi para demonstran. Kini mereka masih meneruskan perjuangan, di jalan-jalan, dengan harapan revolusi akan menang melawan penindasan.

Mereka yang di garda depan perjuangan itu beragam, termasuk para perempuan tangguh yang ikut lantang bersuara, menentang junta militer. Tak gentar, walaupun nyawa taruhannya.

Inilah sejumlah perempuan Myanmar yang menjadi penentang para jenderal, dirangkum merdeka.com dari berbagai sumber:

Aung San Suu Kyi

Aung San Suu Kyi


Militer telah berkuasa di Myanmar sejak 1962. Suu Kyi selama bertahun-tahun memperjuangan reformasi demokrasi. Konsekuensinya, dia ditangkap dan menjadi tahanan rumah sekitar 15 tahun. Perjuangan untuk demokrasi itu yang kemudian mengantarkannya meraih Nobel Perdamaian pada 1991.

Dikutip dari BBC, demokrasi bertahap dimulai pada 2010, meskipun pengaruh militer masih cukup besar.

Pemerintahan yang dipimpin Suu Kyi berkuasa setelah pemilu pada 2015. Tapi kemudian digulingkan setelah kembali menang pemilu pada 8 November 2020.

Suu Kyi adalah pimpinan partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) yang menang telak dalam pemilu pada November 2020. Militer menolak kemenangan tersebut, mengklaim telah terjadi kecurangan, walaupun tuduhan itu dibantah KPU Myanmar.

Setelah ditangkap dalam operasi fajar pada hari kudeta 1 Februari lalu di ibu kota negara Naypyidaw, Suu Kyi sampai saat ini masih berada dalam tahanan rumah.

Suu Kyi menghadapi dua dakwaan; kepemilikan ilegal radio komunikasi atau walkie talkie impor dan melanggar UU kebencanaan karena menggelar kampanye selama pandemi. Sejak ditangkap pada 1 Februari, Suu Kyi pertama kali muncul di pengadilan pada Senin (1/3) melalui konferensi video.

Kyal Sin tewas ditembak militer Myanmar. ©REUTERS/Stringer

Ma Kyal Sin


Ma Kyal Sin atau Angel (19) turun ke jalan pada Rabu (3/3) di kota Mandalay. Dia memakai kaos bertuliskan "Everything Will Be OK" warna hitam dan membawa serta penanda berisi catatan golongan darahnya dan nomor ponsel serta pesan jika terjadi apa-apa dia meminta organ tubuhnya disumbangkan. 

Rupanya, semua tidak baik-baik saja, seperti tulisan kaosnya. Angel tewas setelah ditembak aparat.

Foto-foto Angel saat unjuk rasa muncul dan langsung viral di media sosial, termasuk kalimat dalam kaosnya tersebut. 

Myat Thu, yang bersama Angel saat unjuk rasa, mengenang perempuan muda pemberani itu yang menyiapkan air untuk para pengunjuk rasa agar mereka bisa membersihkan gas air mata dari matanya, dan dia yang melempar kembali selongsong gas air mata ke arah polisi.

“Ketika polisi menembak, dia mengatakan kepada saya ‘Duduk! Duduk! Peluru akan mengenaimu. Kamu terlihat seperti sedang di atas panggung’,” kata Myat Thu (23), dikutip dari Reuters, Kamis (4/4).

“Dia perhatian dan melindungi yang lain seperti seorang sahabat.”

Myat Thu mengatakan dia dan Angel di antara ratusan orang yang berkumpul secara damai di kota terbesar kedua Myanmar itu untuk menentang kudeta dan menyerukan pembebasan Aung San Suu Kyi.

Sebelum kekerasan polisi, Angel terdengar di video berteriak, “Kami tak akan lari” dan “darah tak harus ditumpahkan”.

Pertama, kata Myat Thu, polisi menembak mereka dengan gas air mata. Kemudian datang peluru. Gambar-gambar yang diambil sebelum Angel tewas menunjukkan dia berbaring untuk berlindung di samping spanduk unjuk rasa, dengan kepala sedikit terangkat.

Orang-orang berhamburan. Myat Thu tak lama mendapat pesan: Seorang gadis meninggal.

“Saya tidak tahu kalau itu dia,” ujarnya, tapi foto-foto kemudian muncul di Facebook menunjukkan Angel terbaring di samping korban lain.

ada hari berlangsungnya kudeta, 1 Februari, Angel berseloroh di Facebook dia tak tahu apa yang terjadi ketika jaringan internet diputus.

Pada hari-hari berikutnya, dia mempertegas sikapnya – turun ke jalan mengibarkan bendera merah NLD. Dalam sejumlah foto, dia berpose saat ayahnya mengikatkan pita merah di pergelangan tangannya.

Dia tak gentar walaupun unjuk rasa semakin berbahaya dan junta mengerahkan pasukan tempur dengan senapan serbu bersama polisi.

Suster Ann Roza Nu Tawng, berbaju putih kerudung hitam, berlutut kepada polisi dan memohon agar tidak menembaki pengunjuk rasa. Foto: Myitkyina News Journal

Ann Roza Nu Tawng


Ann Roza Nu Tawng adalah seorang biarawati di Myitkyina, Negara Bagian Kachin. Belum lama ini, foto-fotonya yang sedang berlutut di hadapan polisi viral di media sosial.

Dia berlutut di depan polisi untuk memohon agar mereka jangan menembak para demonstran di kota itu. Sembari berurai air mata dia memohon agar polisi berhenti menggunakan kekerasan.

Kepada Sky News dia mengatakan, saat itu dia pikir dia akan mati. Tapi dia memang telah bersiap mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan yang lain.

“Pada hari Minggu (28/2), saya berada di klinik. Saya memberi perawatan hari itu karena klinik lain tutup. Saya melihat sekelompok orang berjalan. Mereka berunjuk rasa,” ceritanya, dikutip dari Sky News, Minggu (7/3).

“Tiba-tiba saya lihat polisi, militer, dan meriam air menyusul para pengunjuk rasa. Kemudian mereka mengeluarkan tembakan dan mulai memukul para pengunjuk rasa. Saya terkejut dan saya pikir hari ini adalah hari saya akan mati. Saya memutuskan untuk mati,” lanjutnya.

Setelah itu dia kemudian mendatangi polisi tersebut dan menangis. 

“Saya memohon pada mereka. Saat itu saya tidak takut.”

“Jika saya takut dan lari, orang-orang akan berada dalam bahaya. Saya tidak takut sama sekali. Saya memikirkan gadis dari Naypyitaw itu dan satu orang lagi dari Mandalay.”

“Saya memikirkan jiwa-jiwa yang telah gugur dari negara ini. Saya khawatir apa yang akan terjadi terhadap warga Myitkyina.”

Salah seorang anggota mendatanginya dan mengatakan: “Saudara, jangan terlalu khawatir, kami tak akan menembak mereka.”

Ann kemudian mengatakan kepada anggota tersebut: “Mereka juga bisa dibunuh dengan senjata lain. Jangan tembak mereka. Mereka hanya pengunjuk rasa.”

Dia tak yakin aparat tak akan menembak para demonstran, karena di tempat lain dia melihat aparat menembak mati orang-orang.

A poster of Mya Thwate Thwate Khaing seen in Yangon, Myanmar, on February 19, 2021. SAI AUNG MAIN/AFP via Getty Images

Mya Thwate Thwate Khaing


Mya Thwate Thwate Khaing ditembak di kepala saat berunjuk rasa di ibu kota negara, Naypyidaw. Dia menjadi korban tewas pertama akibat kebrutalan aparat pada 19 Februari setelah 10 hari dirawat di rumah sakit.

Kematiannya telah menjadi simbol perlawanan terhadap junta Myanmar.

Dua hari setelah ditembak, Mya Thwate Thwate Khaing menginjak usia 20 tahun. Namun saat itu dia tidak sadarkan diri di ranjang rumah sakit - fotonya yang dibagikan oleh para demonstran anti-kudeta saat mereka berunjuk rasa di jalanan.

Beberapa hari kemudian, spanduk sepanjang 15 meter mengilustrasikan saat dia ditembak digantung di atas jembatan di Yangon, sementara beberapa pengunjuk rasa menyebutnya sebagai seorang “martir”.

Kematiannya memicu kecaman global terhadap junta, dengan sejumlah negara menjatuhkan sanksi terhadap para jenderal yang memimpin kudeta.

Pada 9 Februari, Mya Thwate Thwate Khaing ikut berunjuk rasa di Naypyidaw bersama pacarnya, Hein Yar Zar. Namun kemudian mereka terpisah karena ramainya massa.

Setelah gadis tersebut meninggal, Hein berjanji akan meneruskan perjuangan melawan junta militer.

“Dia mengorbankan hidupnya untuk revolusi ini – sebagai pacarnya, saya akan tetap melakukan itu untuknya,” ujarnya, dikutip dari Channel News Asia.

“Saya akan tetap berjuang agar revolusi ini menang.”[]

Sumber:merdeka.com

Komentar

  Loading...