Garimessenger, Si Pengantar Paket Dengan Sepeda di Banda Aceh

Garimessenger, Si Pengantar Paket Dengan Sepeda di Banda Aceh
A A A

Banda Aceh, acehnews.id – Film Premium Rush mengisahkan Wilee (Joseph Gordon-Levitt), seorang pengantar pesanan dengan sepeda di New York.

Menghindari mobil-mobil ngebut, taksi dan delapan juta pejalan kaki, semua terjadi setiap hari kerja untuk Wilee, kurir sepeda terbaik di kota New York.

Dibutuhkan keahlian khusus untuk mengendarai sepeda fixie, sepeda single-gear tanpa rem dan pengendara yang terampil dengan risiko tinggi saat ia mulai beraksi di trotoar setiap kali mereka tertahan kemacetan.

Namun kehidupan berubah ketika pengiriman rutin berubah menjadi ancaman kematian yang mengejarnya melalui jalan-jalan di Manhattan.

Uniknya, Wilee justru menemukan kebahagiaan dengan menjadi kurir barang. Dengan sepedanya, setiap hari dari satu tempat ke tempat lain Wilee menyusuri kota New York.

Film Premium Rush mengisahkan Wilee (Joseph Gordon-Levitt), seorang pengantar pesanan dengan sepeda di New York.

Dari Film Premium Rush itulah Maulana Syah atau sering dipangil ‘SP’ oleh teman-temanya, terinspirasi mendirikan Garimessenger, begini ceritanya.

Setelah menonton Film yang disutradari John Kamps dan David Koepp itu, Ia menemukan ketertarikanya menjadi kurir sepeda. Segera mencari informasi tentang kurir sepeda di internet. Sejak itu Maulana mengenal Mail yang telah mendirikan Bike Messenger di Palembang.

Tak lama kemudian, sekitar 2016, Ia bergabung dengan IBMA (Indonesia Bike Messenger Association), pada tahun itu juga Ia dirikan Garimessenger di Banda Aceh.

Tentu saja, Kota Banda Aceh jauh berbeda dengan Kota New York. Jumlah penduduk Kota Banda Aceh saat ini hanya sekitar 265.111 jiwa dengan kepadatan 43 jiwa/ Ha. Sementara Kota New York jumlah penduduknya mencapai sekitar 19.1 juta jiwa.

Pada awalnya, Maulana tak mendapat orderan selain dari teman teman dekatnya.  Seiring waktu, Garimessenger semakin redup, Maulana sendiri masih sendiri, tidak ada teman yang bisa diajaknya berbagi dan diskusi.

“Saat itu pesepeda belum seramai ini, Garimessenger vakum lah selama dua  tahun,” kenangnya.

Tak patah semangat, di akhir 2019, Ia bergabung dengan rekan-rekannya di Club Sepeda Banda Aceh, perlahan-lahan mulai mempromosi Garimessenger bersama teman-temanya, sampai sekarang.

Pernah ia mendatangi kantor-kantor pemerintahan untuk mengunakan jasanya. Namun mereka menolak, alasan utamannya Garimessenger terlalu lambat.

“Memang betul lambat, karena kota Banda Aceh tidak macet seperti Jakarta, sehinga Garimessenger tidak efektif,” katanya.

Pun begitu  Ia tetap teguh pada pendirianya, Maulana terus berusaha menemukan cara agar Garimessenger mendapat kepercayaan sebagai jasa kurir sepeda untuk pengantaran paket di kota Banda Aceh dan sekitarnya.

Dalam keseharianya, Maulana acap menghadapi tantangan yang tak bisa dikatakan mudah.  Beragam persoalan Ia harus hadapi sendiri, membagi waktu untuk mengantarkan pesanan adalah problem utama, pasalnya pelanggan butuh kecepatan dalam setiap orderanya.

“Banyak yang buru-buru, jadi saya harus menyesuaikan waktu. Terkadang saya gak bisa tolak. Seperti tadi pagi, ada orderan pada saat saya sedang buat laporan, saya tanya, siang bisa, pelanggan langsung mengalihkan orderanya mengunakan jasa lain,” sebutnya.

Maulana Syah di atas sepedanya

Belum lagi, Ia harus menambal ban sepedanya yang tiba-tiba bocor atau bila hujan deras menguyur Kota Banda Aceh.  Dalam kondisi tertentu, terkadang Maulana melakukan oper paket kepada rider lain agar terbantu. Bila tak ada, ia segera menganti dengan sepeda lainnya.

“Jangan sampai kecelakaan saja bang, mudah-mudahan.” Harapnya.

Bukan tak memiliki motor, tapi Ia merasa tak nyaman jika tidak mendayung sepedanya.

“Sepeda saya di rumah nambah terus ini, bang,” katanya

Bila gerimis tiba-tiba melanda kota, Ia terpaksa menghentikan sepedanya sesaat dan mengirimkan pesan kepada kostumer. Maulana tak mau bertemu kostumernya  dalam kondisi kuyup.

Seperti karakter Wilee dalam Film Premium Rush yang memiliki prinsip, Maulana juga punya banyak alasan mengapa Ia mempertahankan Garimessenger tetap ada di Banda Aceh, dan dia menjadi yang pertama.

Menurutnya, setidaknya Garimessenger dapat mengurangi polusi yang semakin hari terus meninggkat dan mengurangi kemacetan kota. Selain hobi yang dapat menghasilkan, bisnis kurir sepeda juga unik.

“Olahraga sekalian kerja, tidak semua orang mau melakukannya,” katanya.

Meski pendapatannya dari bisnis Garimessenger masih minim, anehnya justru Ia mengklaim bisnis Garimessengernya sudah sukses. Alasan sederhana, Ia sudah mendapat 2 sampai 3 orderan setiap minggunya.

Kembali ke Film Premium Rush, suatu ketika Wilee diminta mengirimkan sebuah amplop berisi tiket yang menjadi harapan bagi teman kekasihnya.

Amplop tersebut ternyata menjadi incaran seorang polisi korup yang bekerja sama dengan seorang rentenir untuk memeras seseorang.

Wilee harus berjuang melarikan diri dari sang polisi korup melalui jalan-jalan kota New York untuk menyimpan amplop tersebut.

Kejar-kejaran antara polisi dan kurir sepeda ini menghasilkan banyak aksi yang menegangkan, dalam Film itu.

Namun kisah Wilee dalam film tidak seperti  kisah Maulana dalam kenyataan, kisah Maulana adalah kisah nyata anak muda di Banda Aceh yang sedang berjuang agar bisnis Garimessengernya bisa menguntungkan baginya.

Maulana Syah 'SP' bersama Komunitasnya.

Insting bisnisnya terus bergerak, Ia tak ingin duduk diam. Dia juga tidak ingin memikirkan penat dan lelahnya. Dia hanya ingin terus mendayung sepedanya, untuk mengejar sesuatu agar lelahnya terbayarkan dengan sensasi gembira bila sudah di atas sepeda.

Ia terus ingin mengejar mimpinya, agar Garimessenger menjadi pekerjaan yang layak buat dirinya sendiri dan membuka lapangan perkerjaan bagi orang.

Seperti Wilee dalam film itu, Maulana menemukan sebuah rasa yang Ia sendiri tidak bisa untuk mengungkapkanya. Mungkin itu yang disebut BAHAGIA.[]

Komentar

  Loading...