Forum Aktifis '98 Sebut PDIP Lebih Realistis Gandeng Cak Imin Ketimbang Ganjar

Forum Aktifis '98 Sebut PDIP Lebih Realistis Gandeng Cak Imin Ketimbang GanjarFoto: istimewa
Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar dan Ketua DPP PDIP Puan Maharani
A A A

Ikhyar mengatakan, kultur politik Parpol di Indonesia masih ditentukan oleh Ketum yang bersangkutan dan elektabilitas tokoh bukan point utama.

Medan, acehnews.id – Koordinator Forum Aktifis 98 Muhammad Ikhyar Velayati Harahap, menilai polemik yang terjadi antara Ketua DPP PDIP Puan Maharani dengan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, seperti memberi isyarat bahwa Ganjar bukanlah bakal calon presiden (bacapres) yang diinginkan para elit PDIP pada Pilpres 2024 mendatang.

Polemik bermula ketika Puan Maharani melontarkan sindiran bahwa pemimpin harusnya selalu hadir di lapangan dan bukan di medsos (media sosial) saat pertemuan kader PDIP se-Jateng, dimana Ganjar juga sama sekali tidak diundang pada pertemuan itu.

Meskipun tanpa menyebut nama, publik menafsirkan sindiran tersebut di tujukan kepada Ganjar Pranowo yang memang sangat aktif di medsos, dan menurut sejumlah survey elektabilitasnya paling tinggi di antara beberapa bacapres 2024 yang muncul saat ini.

Melihat polemik ini, Muhammad Ikhyar memprediksi bahwa para elit PDIP memiliki kandidat lain untuk diusung sebagai Capres/Cawapres 2024. Sehingga posisi Ganjar Pranowo sebagai bacapres saat ini seperti ‘bergantung tak bertali’. Karena PDIP sebagai tempatnya bernaung justru merespon negatif popularitas yang telah ia bangun.

“Ganjar atau tim suksesnya lupa, bahwa menurut UU syarat capres itu di tentukan oleh Parpol. Setinggi apapun elektabilitas dan popularitas seorang tokoh, menjadi sia-sia jika tidak dicalonkan oleh Parpol,” ujar Muhammad Ikhyar di Medan, Selasa (25/21).

Ikhyar mengatakan, kultur politik Parpol di Indonesia masih ditentukan oleh Ketum yang bersangkutan dan elektabilitas tokoh bukan point utama.

“Seharusnya mereka paham, bahwa kultur politik di Indonesia khususnya PDIP, elektabilitas dan popularitas bukan kreteria utama dalam memilih capres, cagub maupun cabup. Yang paling utama adalah loyalitas terhadap partai, dalam hal ini loyalitas terhadap ketua umum,” sindir Ikhyar.

Ikhyar melanjutkan, bahwa tokoh yang punya elektabilitas tinggi jika tidak melakukan komunikasi politik yang baik dengan elit parpol terutama dengan ketua umumnya, maka akan sia-sia.

“Peluang Ganjar, Anis dan Ridwan Kamil kecil untuk jadi CapÅ•es 2024, walau punya elektabilitas dan popularitas yang tinggi. Justru yang paling berpotensi menjadi Capres/Cawapres 2024 adalah para Ketua Umum Partai, yaitu Muhaimin Iskandar (Gus AMI), Prabowo, Puan Maharani (mewakili Mega) dan AHY”, jelasnya.

Gus AMI – Puan Maharani

Menurut Ikhyar, justru PDIP lebih berpotensi dan realistis menggandeng Muhaimin Iskandar untuk dipaketkan dengan Puan Maharani dalam Pilpres 2024.

“Hal ini disebabkan elektabilitas PKB dan Gus AMI sudah menggeser Golkar dan Erlangga. Kedua, PDIP dan PKB punya basis massa dan ormas pendukung yang riel dan loyal di akar rumput”, ujarnya.

Selain itu yang tak kalah penting, lanjutnya, PDIP membutuhkan PKB dan NU untuk merawat PBNU (Pancasila, Bhinneka Tunggal IKA, NKRI, UUD 45) di tengah berkembang dan menguatnya intoleransi di Indonesia.[rilis]

Komentar

  Loading...