Data Ekspor Malaysia Redup, Harga CPO Tertekan

Data Ekspor Malaysia Redup, Harga CPO Tertekan
Pekerja memuat tandan buah segar (TBS) kelapa sawit, di Petajen, Batanghari, Jambi, Jumat (11/12/2020). ANTARA FOTO - Wahdi Septiawan
A A A

Malaysia mencatatkan pengiriman ekspor CPO untuk periode 10 hari pertama Januari 2021, lebih rendah 35 persen daripada bulan sebelumnya

Jakarta, acehnews.id  -- Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil/CPO terkoreksi pada perdagangan Senin (11/1/2021) seiring dengan rilis data ekspor Malaysia yang menunjukkan sinyal pelemahan permintaan.

Berdasarkan data Bloomberg, hingga pukul 15.41 WIB harga CPO berjangka di bursa Malaysia berada di posisi 3.970 ringgit per ton, terkoreksi 0,69 persen. 

Padahal, pada perdagangan pekan lalu harga CPO sempat menyentuh level tertingginya sejak 2008 dan masuk teritori 4.000 ringgit per ton. Sepanjang tahun berjalan 2021, harga masih mencatatkan penguatan sebesar 2,85 persen.

Manajer Penjualan Institusional Phillip Futures Kuala Lumpur Marcello Cultrera mengatakan bahwa katalis negatif harga CPO berasal dari Malaysia, sebagai negara eksportir dan produsen CPO terbesar kedua di dunia.

Malaysia mencatatkan pengiriman ekspor CPO untuk periode 10 hari pertama Januari 2021, lebih rendah 35 persen daripada bulan sebelumnya. Data tersebut melemahkan sinyal bearish permintaan yang selama ini membuat investor optimistis terhadap harga CPO.

“Penurunan permintaan pada periode 1-10 Januari 2021 itu menekan harga,” papar Cultrera seperti dikutip dari Bloomberg, Senin (11/1/2021).

Selain itu, dia menjelaskan bahwa investor juga dibebani sentimen penurunan stok CPO yang lebih rendah daripada ekspektasi pasar pada Desember 2020. Hal itu semakin memperkuat asumsi bahwa permintaan dalam tekanan di awal tahun ini.

Adapun, Dewan Minyak Sawit Malaysia mencatat stok CPO Negeri Jiran itu untuk periode Desember 2020 sebesar 1,26 juta ton, lebih tinggi daripada ekspektasi perseroan yang memproyeksi stok akan anjlok ke level 1,18 juta ton.

Di sisi lain, sejumlah analis percaya harga CPO akan tetap bertahan mendekati level tertingginya dalam 10 tahun terakhir di tengah prospek pasokan yang ketat dalam waktu dekat.

Founder Palm Oil Analytics Singapura Sathia Varqa memproyeksi produksi CPO di Semenanjung Malaysia, wilayah perkebunan CPO utama Malaysia, kemungkinan menyusut lebih dari 5 persen pada kuartal I/2021. Hal itu disebabkan curah hujan yang berlebihan melanda wilayah itu dan beberapa perkebunan diproyeksi mengalami banjir.

Sementara itu, Ketua LMC International James Fry mengatakan bahwa dalam jangka panjang pasokan CPO tampaknya akan meningkat. Produksi CPO global diproyeksi naik lebih dari 6 juta ton pada 2021, terutama dari produsen CPO terbesar dunia, Indonesia.

Fry memperkirakan harga CPO terkoreksi pada akhir tahun di tengah sentimen tersebut, setelah mengalami reli impresif hingga Maret 2021.[]

Sumber:Bisnis.com

Komentar

  Loading...