COVID-19, Masyarakat Perlu Paham

Oleh: DR Dr Safrizal Rahman MKes SpOT – (Ketua IDI wilayah Aceh dan Dosen Fakultas Kedokteran Unsyiah)

COVID-19, Masyarakat Perlu PahamANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA
Ilustrasi tenaga medis khusus penanganan virus corona
A A A

Perlu difahami ketakutan terbesar dari tenaga medis dalam menghadapi pasien covid adalah tertular, apalagi tingkat kematian tenaga medis di Indonesia terkait pandemi  berada di rangking 3 tertinggi di dunia setelah Rusia dan Mesir.

SULIT menjelaskan matematika peningkatan kasus covid-19 yang terus terjadi di Aceh, 3 bulan maret hingga mei kita hanya punya 22 kasus, kemudian naik mencapai 100 dalam 1 bulan,juni. Selanjutnya melejit ke angka 1300 dalam waktu 2 bulan berikutnya.

Membaca pergerakan angka diatas, saya tidak berani membayangkan berapa peningkatan kasus kita  di akhir September, Oktober hingga Desember nanti.  Banda aceh, Aceh besar dan Aceh selatan adalah penyumbang utama angka tersebut. 

Covid-19 kelihatannya memiliki endurance yang tinggi dalam menyerang manusia, sementara sebagian masyarakat sudah lelah untuk selalu siaga. Tenaga medis jatuh bangun meski tetap bertahan dengan asa yang ada.

Rilis terakhir dari pemda yang menyampaikan angka positif kita 11,81% dimana WHO mensyaratkan kurang dari 5% sebagai syarat menyatakan pandemi terkontrol disatu daerah.

Banyak pakar yang mengatakan bahwa tidak perlu takut dengan angka positif yang tinggi selama angka kematian ( case fatality rate) rendah.

Meski saya percaya akan pendapat tersebut, tapi tetap saja khawatir bahwa tingginya angka positif ini menunjukan sangat mungkin sewaktu waktu terjadi peningkatan angka kematian, dikaitkan kapasitas layanan medis kita yang tidak merata ditambah keterbatasan tenaga yang sudah mulai terasa di berbagai kabupaten kota.

Baiklah tulisan ini sebenarnya saya buat untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang berbagai hal terkait covid.

Salah satu yang selalu menjadi polemik adalah bagaimana medis menentukan covid pada pasien yang berobat kerumah sakit. Banyak anggapan miring dari masyarakat yang kemudian berujung dari penolakan terhadap diagnosa rumah sakit bahkan hingga ancaman terhadap tenaga medis yang dianggap sengaja meng”covid”kan pasien.

Perlu difahami ketakutan terbesar dari tenaga medis dalam menghadapi pasien covid adalah tertular, apalagi tingkat kematian tenaga medis di Indonesia terkait pandemi  berada di rangking 3 tertinggi di dunia setelah Rusia dan Mesir.

Kondisi ini meyebabkan sebagian besar rumah sakit menerapkan sistem Penafisan (Skrining) terhadap semua pasien yang datang. Penafisan adalah rangkaian pertanyaan dan pemeriksaan yang disusun dengan skor tertentu nantinya bermuara pada kesimpulan berdasarkan total skor mengarahkan kemungkinan pasien  ke covid atau bukan,  meskipun pasien datang ke IGD karena kondisi lain misalnya patah tulang.

Bila skor penafisan tidak mengarah ke covid maka pasien akan ditangani sesuai keluhannya berobat dan bisa masuk keruang rawat biasa.

Tapi bila skor pasien  mengarah ke covid maka akan dilakukan pemeriksaan tambahan pada pasien  untuk konfirmasi lanjut , baik berupa pemeriksaan laboratorium, x-ray, rapid test, TCM, hingga swab RT PCR. 

Bila selama proses ini berlangsung dan pasien meninggal dunia, maka akan berlaku protokol covid bertujuan  guna memutus rantai penyebaran.  Sangat sering keluarga pasien tidak bisa menerima.

Hingga sering terjadi tolak tarik petugas medis dan keluarga terkait proses pemakaman mulai dari merebut jenazah, hingga mengeluarkan ancaman baik langsung maupun melalui media sosial yang  cukup mengkhawatirkan.

Proses penafisan ini kalo di analogikan dengan kondisi zaman perang adalah ketika ada orang asing yang  datang ke markas tentara, para penjaga markas pasti mewaspadai bahkan jika diperlukan dengan senjata siap tembak karena bisa saja yang datang adalah musuh yang siap membunuh.

Beberapa pertanyaan oleh penjaga seperti sandi tentu bisa menklarifikasi ini, mereka yang bisa menjawab sandi akan dianggap kawan dan kewaspadaan akan dikendorkan bahkan bila perlu dilakukan jamuan makan. 

Tapi bila tidak bisa menjawab sandi maka pasti pendatang tersebut tidak dibiarkan mendekat bahkan kalo perlu sementara dimasukan keruang tahanan khusus dengan penjagaan ketat sambil menunggu investigasi lanjutan. Kenapa ini dilakukan tentu jawabannya demi keamana semua pasukan.

Pemahaman lain yang harus dimengerti oleh masyarakat adalah bahwa hasil swab Test cepat molekuler (TCM) atau swab RT PCR dikeluarkan oleh laboratorium  tidak bisa di intervensi oleh para dokter dan tenaga medis lainnya, bahkan sering kedua kelompok ini tidak saling kenal.

 

Laboratorium covid yang memeriksa ratusan sampel perhari dalam tabung kecil yang diberi nomer pengkodean khusus, butuh waktu khusus untuk mencari dan memahami nama nama dari pemilik sampel tadi, Bahkan ketika hasilnya keluar maka entri data dilakukan oleh orang yang berbeda dengan ketentuan khusus.

Sebelum dikeluarkan hasil tertulis, kembali dilakukan cek dan ricek guna menghindari hasil yang tertukar. Lalu hasil tersebut dikirm ke dinas kesehatan atau rumah sakit yang mengirim, serta di upload ke sistem pendataan nasional.

Sangat disayangkan kemudian ketika dokter yang merawat  disalahkan atas konfirmasi diagnosa ini, dianggap merekayasa bahkan hingga diancam keselamatannya.

Sekali lagi para dokter ini hanya menyampaikan hasil laboratorium yang merupakan standart baku diagnosa covid-19.

Dalam kasus lain ada masyarakat menyampaikan ketidak percayaannya akan diagnosa covid atas  keluarga mereka yang sudah sakit lama dirumah, saat dibawa berobat kerumah sakit. Padahal selama sakit pasien tidak pernah keluar rumah sama sekali. Perlu di fahami bahwa daerah kita sudah mengalami transmisi lokal.

Dalam teori juga disebutkan hanya 20% dari kasus yang bergejala, 80% penderita tidak bergejala.

Meskipun seseorang sakit lama dan tidak pernah keluar dari rumah karena sakitnya, bila ada anggota keluarga yang tetap keluar masuk rumah baik ketika bekerja maupun belanja apalagi pergi kesuatu acara pasti kemungkinan tertular tetap ada.

Terlebih bila mereka masuk pada kelompok 80% yang tidak bergejala (carrier) tidak heran bila seisi rumah akan tertular terutama untuk orang sakit yang daya tahan tubuhnya lemah. 

Pada banyak kejadian bahkan diketahui seseorang bisa tertular dari paket belanja online ataupun belanja berbasis ojol.

Cerita lain, demi menyelamatkan nyawa pasien, bahkan dokter dan perawat kita di Aceh memberanikan diri untuk melakukan operasi pada pasien yang konfirmasi positif.

Salah seorang diantaranya hingga tertular dan harus berjuang di perawatan intensif. Tidak mudah bekerja dengan alat pelindung diri lengkap level 3 berjam jam lamanya, menghirup karbondioxsida, pandangan buram, menahan buang air kecil. Berusaha tetap fokus agar tidak tertular.  

Sebagai ketua IDI sering saya tertegun menerima laporan dari lapangan akan penolakan dari masyarakat dengan berbagai cara yang sangat meprihatinkan.

Berbaik sangka dengan semu ini, mungkin masyarakat belum faham karena kita masih kurang memberi edukasi. []

Komentar

  Loading...