Belajar dari Keluarga Ibrahim

Belajar dari Keluarga Ibrahim
A A A

Zarkasyi Yusuf: ASN Pada Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh

BULAN Dzulhijjah atau lebih dikenal dengan bulan haji merupakan bulan ke-12 dalam penanggalan tahun Hijriah, pada bulan ini terjadi peristiwa besar yang telah tercatat dalam sejarah, peristiwa itu adalah penyembelihan (qurban) Nabi Ismail, disamping peristiwa lain yang menjadi bahagian dari perjalanan hidup Nabi Ibrahim dan keluarganya, napak tilas kehidupan beliau kini menjadi bahagian dari rukun dan wajib haji.

Ada beberapa hal yang perlu diteladani kembali dari keluarga Nabi Ibrahim. Pertama, Mendidik anak yang saleh. Nabi Ibrahim menginginkan keturunannya menjadi keturunan yang saleh, beliau selalu berdoa untuk dikaruniai anak yang saleh, Rabbi habli minasshalihin, demikian doa yang selalu dibaca Nabi Ibrahim.

Dalam kehidupan sekarang, kita sering mengabaikan do’a, mengabaikan bermunajat kepada Allah sebagai sang Pemberi segalanya, termasuk juga mengabaikan berdoa untuk memperoleh anak yang saleh.

Lebih menyakitkan lagi, mengabaikan pendidikan Agama bagi anak anak, padahal pendidikan Agama adalah modal untuk membentuk anak-anak yang saleh.

Bagi calon pengantin, perkawinan hendaknya tidak hanya melepaskan keinginan hawa nafsu semata, tetapi hendaknya perlu niat yang kuat untuk mencari keturunan yang saleh, keturunan yang siap mengabdikan diri kepada Allah serta taat kepada orangtuanya, sebagaimana yang telah dicontohkan Nabi Ismail.

Setelah menerima perintah dari Allah untuk menyembelih Ismali, Nabi Ibrahim mengutarakan maksudnya kepada anaknya tercinta, dialog mendebarkan terjadi antar Ayah dan anak yang dikisahkan kembali oleh Allah dalam surat As-Shaffat ayat 99-105.

Ismail merelakan Ayahnya untuk menyembelih dirinya, “Wahai Ayah, silahkan Engkau kerjakan apa yang telah diperintahkan Allah, insya Allah Ayah akan mendapati saya menjadi bahagian dari orang-orang yang sabar”, sungguh jawaban luar biasa, padahal yang dipertaruhkan Ismail adalah nyawa, ini adalah bukti ketaatan Ismail kepada Allah dan kepatuhannya kepada sang Ayah.

Dalam durratun nasihin dan qishashul al-anbiya dikisahkan, Ismail memberikan pesan yang mendorong semangat Ibrahim dalam melakukan tugas beratnya, serta pesan keteguhan kepada Ibundanya.

Kedua,  kerelaan berkorban di jalan Allah. Ibrahim dan keluarganya sepakat merelakan anak tersayang untuk disembelih demi menunaikan perintah Allah, Ismail pun rela mempersembahkan nyawanya dan mempersilahkan Ayahnya menyembelih dirinya, sungguh keluarga luar biasa.

Rela berkorban demi mengharap ridha Allah merupakan barang langka di tengah kehidupan masyarakat yang materialistis, semua dilakukan mengharap pamrih, semua dihitung dengan materi, semua diukur dengan nilai nominal. Padahal pengorbanan merupakan kewajiban untuk mencapai sebuah perjuangan, bahkan pengorbanan akan selalu berbanding lurus dengan tujuan perjuangan.

Keengganan berkorban di jalan Allah merupakan penyakit yang diderita oleh kaum muslim sekarang, inilah salah satu faktor yang menyebabkan ummat Islam mundur, demikian analisa Amir Syakib Arsalan dalam limaza taakhara al-muslimun wataqaddama ghairuhum (mengapa orang-orang Islam mundur, dan orang-orang non islam maju).

Analisa ini meski ditulis pada tahun 1930-an, tetapi masih sangat relevan dengan kondisi masyarakat sekarang, seolah-olah mengabaikan peran Allah dalam setiap kehidupan mereka. Revitalisasi semangat berkorban dalam menjalankan perintah Allah menjadi sebuah keniscayaan menuju keluarga yang mendapat keridhaan Allah, seperti keluarga Ibrahim.

Dalam catatan sejarah, spirit pengorbanan demi mendekatkan diri kepada Allah telah membuahkan hasil gemilang dan kemenangan.

Sebagai contoh, Abu Bakar As-Siddiq rela menyerahkan seluruh hartanya untuk modal perang, Ali bin Abi Thalib siap tidur pada tempat tidurnya Rasulullah saat peristiwa hijrah terjadi, Rabiah Al-Adawiyah rela tidak menikah, serta sanggup shalat sunnat ratusan rakaat demi mencari keridhaan Allah, tentu masih banyak lagi contoh-contoh mereka yang sukses dengan modal pengorbanan demi mencari keridhaan Allah.

Ketiga; Tiba hari 10 Dzulhijjah, Nabi Ibrahim mengutarakan mimpi yang selama ini dipendamnya, “Anakku, Allah perintahkan Ayahmu ini untuk menyembelih dirimu, bagaimana pendapatmu?”.

Sebenarnya, boleh saja Nabi Ibrahim tidak meminta pendapat anaknya, sebab itu adalah perintah Allah yang wajib dijalankannya. Tetapi, Nabi Ibrahim tetap mengutarakannya serta meminta pendapat Ismail atas perinta tersebut. Inilah pelajaran yang diajarkan Nabi Ibrahim untuk anak cucunya, pelajaran tersebut adalah musyawarah.

Dewasa ini, musyawarah telah banyak diabaikan, sehingga banyak persoalan tidak dapat diselesaikan, malah terjadi pertentangan yang berlarut-larut yang berakibat rusaknya ukhuwah.  

Allah memerintahkan untuk selalu melakukan musyawarah pada setiap pekerjaan, musyawarah tentu menjadi landasan kuat dalam melaksanakan setiap kegiatan, kekuatan dan kebersamaan akan timbul dengan bermusyawarah, kita tidak akan pernah rendah jika menerima pendapat orang, tidak akan miskin jika memberikan nasehat/pendapat kepada orang lain.

Musyawarah adalah indikator kehidupan sosial yang masih langgeng, jika musyawarah terus diabaikan maka kelanggengan kehidupan bermasyarakat akan terancam, hadih maja mengajarkan “meunyoe tatem duek-pakat, lampoh jeurat jadeh tapeugala”, demikian gambaran kekuatan musyawarah.  

Semoga perjalanan kehidupan Nabi Ibrahim dan keluarganya menjadi pelajaran penting dalam mengarungi kehidupan ini, demi meraih keridhaan Allah dunia-akhirat. Rasulullah berpesan dalam sebuah hadist, bahwa halawatul iman (manisnya iman) akan dirasakan oleh mereka yang mencintai Allah dan Rasul di atas segalanya, salah satu bukti cinta adalah rela berkorban demi yang dicintai.

Sekarang, bagaimana menerjemahkan keteladanan tersebut dalam kehidupan kita. Sehingga akan terbentuk keluarga-keluarga hebat, keluarga yang sanggup mengabdikan seluruh kemampuannya untuk mencari keridhaan Allah. Masyarakat yang hebat, terbentuk dari kumpulan keluarga keluarga hebat pula. Untuk itu, jagalah keluarga kita dengan meneladani keluarga Nabi Ibrahim. []

Komentar

  Loading...