Anomali Jaringan Teroris Aceh

Ditulis Oleh : Al Chaidar (Dosen Antropologi, Universitas Malikussaleh)

Anomali Jaringan Teroris AcehTiyok
Ilustrasi/Net
A A A

Dua orang ini merupakan teroris dari jaringan Aulia (Abu Hamzah) dan Azzumar (Maulana) yang selama beberapa tahun belakangan ini sangat aktif melakukan rekruitmen dan pelatihan amaliyah.

Al Chaidar (Dosen Antropologi, Universitas Malikussaleh)

ACEH kembali dirundung masalah di masa pandemi Covid-19 sekarang ini. Kini masalahnya sangat pelik: penangkapan 5 terduga teroris di tiga tempat.

Penangkapan pertama di lokasi Jalan Blang Bintang, Krueng Raya, Kecamatan Blang Bintang, Aceh Besar Densus 88 berhasil mengamankan inisial RA (41) warga Langsa Kota dan inisial SA alias S (30) warga Banda Baro, Aceh Utara.

Penangkapan selanjutnya, di Pasar Simpang 7, Ulee Kareng, Kecamatan Ulee Kareng petugas Densus 88 berhasil mengamankan terduga teroris berisial Umar alias AZ alias TA (35).

Densus 88 kemudian mengamankan berisial SJ alias Abu Fatih(40) di Gampong Sidorejo, Kecamatan Langsa Lama, Kota Langsa dan inisial MY (46) diamankan di Birem Puntong, Kec. Langsa Baro, Kota Langsa. Ini merupakan penangkapan teroris yang berafiliasi ke ISIS yang sangat mengejutkan setelah peristiwa pelatihan teroris di Bukit Jalin, Jantho, Aceh Besar tahun 2010.

Umar dan Abu Fatih adalah tokoh teroris ISIS Aceh yang sangat dicari oleh aparat keamanan. Dua orang ini merupakan teroris dari jaringan Aulia (Abu Hamzah) dan Azzumar (Maulana) yang selama beberapa tahun belakangan ini sangat aktif melakukan rekruitmen dan pelatihan amaliyah.

Bahkan selama ini jaringan Abu Hamzah ini juga berhasil menarik beberapa rekannya yang baru bebas dari penjara.

Residivisme teroris adalah gejala baru yang menunjukkan tidak kapoknya jaringan dalam menjalankan aksinya untuk menyerang kemanusiaan.

Pada penangkapan kali ini, sejumlah barang bukti turut disita dari mulai bahan pembuat bom hingga buku kajian ISIS. Barang Bukti yang berhasil diamankan saat dilakukan penangkapan dari kelima terduga teroris adalah bahan pembuat bom, yakni 1 Kg Pupuk Kalium Nitrat, 250 gram The Organic Stop Actived Charcoal (Bubuk Arang Aktif), 1 botol (2000 pcs) peluru gotri silver cosmos 6mm, beberapa potongan pipa besi sebagai alat pembuatan dan isi Bom.

Alat bukti ini menunjukkan bahwa akan ada serangan bom (dan mungkin juga berbentuk serangan bom bunuh diri) yang akan diledakkan di beberapa tempat yang menjadi sasaran kelompok ini.

Selain barang-barang tersebut pihak Polis juga berhasil mengamankan sejumlah dokumen yang memperlihatkan bahwa kelompok ini mengembangkan sistem kaderisasi dengan pengajian online dan tatap muka yang serius selain pelatihan amaliyah.

Sasarannya, selain kantor-kantor polisi, juga menargetkan lokasi-lokasi militer dan kantor-kantor pemerintahan sipil seperti kantor gubernur, kantor bupati dan lain-lain. Ini merupakan target yang aneh.

Sidney Jones dalam analisisnya tentang perkembangan teroris di Aceh (IPAC Report No. 69, h. 19-20) yang terbit 21 Januari 2021 menyebutkan jaringan teroris Aceh ini merupakan jaringan anomali, aneh dan menyimpang dari jaringan teroris yang biasanya. Sasarannya pun anomali karena memasukkan sasaran sipil muslim yang bekerja pada kantor-kantor yang dianggap sebagai tempat berkumpulnya orang-orang kafir.

Bagi kelompok teroris yang berafiliasi ke ISIS ini, di luar kelompok mereka adalah kafir dan halal darahnya termasuk para pegawai negeri dan honorer yang terdapat di kantor-kantor pemda di Banda Aceh dan lain-lain tempat.

Ideologi mereka adalah Wahabi Takfiri yang dalam ketegori antropologis digolongkan sebagai kelompok khawarij (kelompok sempalan) yang bersifat berlebih-lebihan dalam beragama.

Kelompok khawarij sudah muncul sejak zaman Rasulullah pada abad ke-6, kini kelompok yang ghuluw (berlebih-lebihan dalam beragama) ini semakin berkembang di tengah-tengah masyarakat yang sedang mengalami kekeringan spiritual. Kekeringan spiritual ini disebabkan oleh situasi sosial, budaya dan politik yang kian hari semakin sekuler di Indonesia.

Situasi sekularisme ini menjadi lahan yang subur bagi kelompok Takfiri yang khawarij ini untuk berkembang. Berdasarkan buku catatan yang ditemukan oleh polisi,  berisi pesan ancaman terhadap TNI/Polri, pemerintah pusat dan pemerintah Aceh.

Sebuah pesan yang sangat bersahaja yang tidak mau disampaikan dalam bentuk dakwah. Jaringan kelompok ini juga berencana untuk melakukan hijrah ke Afghanistan. Paspor-paspor milik terduga teroris juga ditemukan untuk melaksanakan Hijrah ke Khurasan, Afghanistan.

Beberapa buku kajian ISIS dan tauhid serta compact disk dan flash disk yang berisi video dan pesan-pesan media Telegram tentang situasi di Afghanistan. Padahal banyak anggota ISIS Khurosan yang sudah ditembak mati oleh Taliban dan ditemukan dalam kondisi cekang dan kaku yang semakin mengukuhkan keyakinan kaum anti khawarij bahwa ISIS adalah bathil.

Tujuan ke Khurosan (Afghanistan) semakin menguatkan kesimpulan banyak pihak bahwa ISIS difabrikasi oleh Amerika Serikat untuk menyerang Taliban dan sasaran mujahidin lainnya di berbagai negara.

Terorisme ISIS adalah bentuk perang tunggang (proxy war)  yang masih konsisten dipraktekkan oleh AS hingga hari ini untuk menghindari keterlibatan langsung tangan-tangan tentara mereka di berbagai negara.

Terakhir, juga berhasil diamankan 3 HP android dan 3 ponsel biasa berbagai merek yang digunakan terduga teroris untuk berkomunikasi dengan jaringan dan kelompok teror lainnya. Kelompok ini masih saja menggunakan aplikasi Telegram dan mendokumentasikan kegiatan mereka dalam bentuk foto selfi dan video i’dad  (latihan fisik persiapan aksi teror). Secara netnografi, kelompok teroris hanyalah korban pengguna yang tidak bisa membedakan mana aplikasi komunikasi interaktif yang aman dan  tidak.

Anomali lain dari kelompok teroris ini adalah terdapatnya salah satu yang ditangkap berinisial SB alias Abu Fatih yang merupakan pegawai negeri sipil (PNS).

Kelompok teroris khawarij yang berideologi Wahabi Takfiri ini bahkan sebelumnya mengkafirkan PNS dan menfatwakan PNS tempatnya nanti di neraka. Apakah ada dispensasi khusus untuk PNS di negeri syariat?***

Komentar

  Loading...