ADA APA DENGAN ZOOM?

ADA APA DENGAN ZOOM?
Ilustasi
A A A

Oleh: Ratu Rahil Alzahira (Mahasiswa  Jurusan Statistika, Fakultas MIPA Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh)

MENGALAMI masa karantina akibat pandemi Covid-19 membuat pekerjaan tidak leluasa berjalan seperti lazimnya. Agar tetap dapat terkoneksi, maka masyarakat memanfaatkan teknologi yang ada. Salah satu yang paling laris adalah aplikasi asal Tingkok, Zoom.

Sampai tulisan ini dibuat, di Indonesia, Zoom menempati posisi teratas kategori aplikasi gratis di panel App Store maupun Play Store dengan mendapat rating di atas 4 dari 5.

Ulasan-ulasan pengguna pun cenderung positif dan memuaskan. Namun, beberapa di antara mereka yang memberi bintang 1 adalah mereka yang belum mengerti cara mengoperasikan atau sekadar kesal karena aplikasi tersebut telah merenggut waktu liburnya.

Seperti yang dilansir salah seorang pengguna, “Kok ada lu sih, kan jadi belajar online,” atau bahkan sampai ada yang membuat seakan slogan “Lockdown menyerang, Zoom bertindak.”

Tidak dipungkiri keberadaan Zoom memang mempermudah kondisi saat ini karena fiturnya yang memungkinkan banyak orang terhubung sekaligus, serta fitur share screen yang membuat setiap orang dapat melihat screen yang sama secara bersamaan.

Ditambah lagi dapat digunakan secara gratis walau terbatas 40 menit per satu sesi pemakaian.  Jika versi berbayarnya, maka tidak ada batasan waktu dan bahkan dapat melampaui lebih dari 100 partisipan yang mana merupakan batas maksimal patisipan versi gratisnya.

Aplikasi yang pertama kali dirilis tahun 2011 itu, kini kerap difungsikan dalam dunia akademik.  Mahasiswa-mahasiswa Unsyiah pun turut menggunakannya.

Sebuah pengalaman baru tentunya, namun dikarenakan antarmuka pengguna yang sederhana, aplikasi ini langsung berbaur dengan para mahasiswa meski awalnya ada saja kebingungan yang terjadi. Penyerapan kuota internet yang dianggap cukup untuk menarik napas panjang pun menjadi risiko penggunaan aplikasi ini.

Di sisi yang berbeda, aplikasi besutan Eric S. Yuan ini sedang menjadi sorotan tingkat keamanannya karena dianggap rawan retas.

Berdasarkan media The Intercept (31/3), disebutkan bahwa Zoom ternyata tidak menghadirkan enkripsi end-to-end untuk panggilan video yang dilakukan pengguna.

Terkait hal tersebut, pihak Zoom memberi konfirmasi melalui juru bicaranya, “Saat ini, tidak memungkinkan untuk menghadirkan enkripsi end-to-end untuk panggilan video Zoom. Zoom menggunakan kombinasi TCP dan UDP sebagai pengamanan. TCP dibuat berdasarkan protokol TLS.”

Protokol TLS memang dapat menjaga komunikasi tetap aman, namun enkripsi end-to-end lebih hebat karena membuat komunikasi tidak dapat diretas.

Salah satu mesin pencari di internet, Google, baru-baru ini resmi melarang karyawannya menggunakan Zoom. Google menyebut bahwa Zoom berisiko membocorkan data pribadi penggunanya.

Adapun yang marak belakangan ini pula, insiden di Singapura yang dianggap tidak pantas dalam sebuah kelas via Zoom. Hal itu membuat para guru di sana menghentikan penggunaan Zoom.

Seperti dikutip Bloomberg (10/4), “Ini adalah insiden yang sangat serius,” ungkap Aaron Loh selaku direktur divisi teknologi pendidikan di Kementerian Pendidikan Singapura. “Kami saat ini sedang menyelidiki pelanggaran yang terjadi dan akan mengajukan laporan polisi jika diperlukan,” lanjutnya.

Kasus tersebut dikenal dengan istilah “zoom-bombing” yang merupakan gangguan yang tidak diinginkan ke dalam panggilan konferensi video yang dilakukan oleh seseorang (Wikipedia, 2020). Insiden penyusupan tersebut tentu membuat berang pengguna. Sehingga keamanan aplikasi ini lagi-lagi dipertanyakan.

Kejadian serupa juga sebelumnya terjadi di Amerika Serikat, Taiwan dan Jerman.

Menjawab insiden di Singapura, juru bicara Zoom mengatakan, “Kami baru-baru ini mengubah pengaturan default untuk pengguna pendidikan yang terdaftar dalam program K-12 kami untuk memungkinkan ruang tunggu virtual dan memastikan guru adalah satu-satunya yang dapat berbagi konten di kelas.”

Ditambah Zoom juga baru-baru ini menghadirkan ikon “security” guna memberi akses lebih cepat ke fitur security.

Seiring meningkatnya tingkat kekhawatiran akan privasi terhadap aplikasi yang sedang meroket popularitasnya ini, pihak Zoom juga terdampak jatuhnya harga saham dalam pekan terakhir.

 Dikutip laman detikNews (10/4), Zoom Video Communications mengumumkan perekrutan mantan kepala keamanan siber Facebook, Alex Stamos, sebagai penasihat untuk meningkatkan privasi dan keamanan aplikasi mereka.

Kebijakan lain yaitu Sang CEO, Eric S. Yuan membuat keputusan bahwa dalam 90 hari ke depan, semua rencana pengembangan Zoom akan dialihkan sepenuhnya guna fokus memperbaiki sistem keamanannya secara proaktif.

Meski telah banyak isu yang meruak menyangkut aplikasi satu ini, namun di Unsyiah sendiri atau bahkan di Indonesia sekalipun masih saja penggunaannya merajalela.

Mungkin, dengan tanggapan Zoom yang berkomitmen memperbaiki sistem keamanannya tersebut masih dapat digunakan dahulu untuk belajar atau hanya iseng. Namun, terkhusus bila menggelar rapat penting aplikasi ini tidak disarankan.

Hal tersebut demi mengurangi kemungkinan-kemungkinan buruk terjadi. Maka, dengan memilih aplikasi serupa lain yang lebih aman akan menjadi alternatif tepat. Pilihannya juga masih beragam, seperti Google Meet, Skype, ataupun Cisco Webex.[]

               

Komentar

  Loading...